PARLEMEN

Israel Serang Armada Global Sumud Flotilla, DPR Minta Pemerintah Ambil Langkah Konkret

Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat.
Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat. (Foto: Dok. DPR RI)

Jakarta, IDM – Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat, menyoroti tindakan represif Israel yang semakin gencar melakukan penyerangan terhadap armada Global Sumud Flotilla.

Armada Global Sumud Flotilla merupakan sekumpulan kapal kemanusiaan dari lebih 40 negara yang berlayar menuju Gaza untuk menyalurkan bantuan bagi warga Palestina.

Ia mendesak pemerintah Indonesia segera mengambil langkah konkret, mengingat ada warga negara Indonesia yang turut bergabung dalam rombongan tersebut.

Baca Juga: 2 Anggota TNI Diduga Jual Amunisi ke KKB, DPR Minta Investigasi Menyeluruh

“Malam tadi semakin gencar Israel melakukan penyerangan kepada teman-teman kita dari 40 lebih negara yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla. Mereka hampir sampai di tepian Gaza, namun diarahkan masuk ke pelabuhan Israel,” tegas Syahrul, yang dikutip Jumat (3/10).

“Israel meminta agar bantuan kemanusiaan itu melalui mereka. Ini tidak mungkin, karena akan dijadikan tameng bagi Israel,” ujar Syahrul.

Syahrul menilai pengalaman sebelumnya menunjukkan jika distribusi bantuan dikendalikan Israel, maka bantuan tidak sampai merata ke masyarakat Palestina.

Baca Juga: DPR Yakin Komitmen Presiden terhadap Kemerdekaan Palestina dan Perdamaian Dunia

“Itu sudah terjadi melalui perbatasan Rafah. Bantuan yang dibagikan pertama kali hanya diterima segelintir orang, sementara warga yang membutuhkan ribuan. Akibatnya muncul perkelahian di antara warga Palestina sendiri,” ungkapnya.

Menurutnya, armada kemanusiaan tersebut tegas menyatakan misinya bukanlah gerakan politik maupun bersenjata, melainkan murni untuk menyalurkan bantuan bagi rakyat Palestina yang kini menghadapi kelaparan ekstrem.

“Teman-teman Global Sumud ini bersikeras menuju Gaza. Mereka katakan, ini bukan gerakan politik, ini bukan gerakan senjata, ini murni gerakan kemanusiaan. Untuk membantu warga Palestina yang sedang kelaparan, yang banyak mati kelaparan, yang sakit, dan seterusnya,” ungkap Anggota BKSAP DPR RI itu.

Baca Juga: Komisi I: Penggunaan Foto Presiden Prabowo dalam Konteks Tidak Resmi Perbuatan Tak Patut

Syahrul juga menyebut situasi semakin genting karena sudah ada tiga negara yang bersiap mengerahkan kapal perang, meski tetap terbatas dalam memasuki kawasan laut yang dikuasai Israel.

Di tengah situasi tersebut, Syahrul meminta pemerintah Indonesia segera memberikan perlindungan, terlebih karena ada WNI yang ikut berada di kapal tersebut.

“Ini harus segera diselamatkan, apalagi ada warga Indonesia di antara rombongan. Mudah-mudahan Pak Prabowo, dengan semangatnya yang selalu membela Palestina, bisa memberikan perlindungan nyata bagi Global Sumud Flotilla ini,” pungkas Syahrul. (Ykb)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.