Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan strategis yang tidak dapat dipisahkan dari laut. Namun, membangun kekuatan angkatan laut bukan hanya soal menambah jumlah kapal perang, melainkan tentang bagaimana menyusun doktrin yang tepat, membangun interoperabilitas armada, serta memperkuat industri pertahanan nasional secara berkelanjutan.
KRI Makassar-590 diberangkatkan dari Surabaya, Jawa Timur, Rabu (10/12) untuk mengangkut bantuan kemanusiaan ke wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Upacara peresmian dan pengukuhan Komandan KRI Belati-622 berlangsung khidmat di Markas Komando Kolinlamil, Jakarta, Jumat (24/10). Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 meter buatan PT Tesco Indomaritim tersebut resmi memperkuat jajaran Satuan Kapal Cepat (Satkat) Komando Armada III Sorong, Papua Barat Daya.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menegaskan, kekuatan armada laut Indonesia masih perlu ditingkatkan secara signifikan untuk mampu menjaga seluruh perairan nasional.
Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat, menyoroti tindakan represif Israel yang semakin gencar melakukan penyerangan terhadap armada Global Sumud Flotilla.
Presiden RI Prabowo Subianto memilih KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 sebagai panggung Presidential Inspection HUT ke-80 TNI di Teluk Jakarta pada beberapa waktu lalu.
PT PAL Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai tulang punggung kemandirian pertahanan maritim nasional. Melalui kemampuan pemeliharaan, perbaikan, dan modernisasi kapal perang (maintenance, repair, and overhaul/MRO), perusahaan pelat merah ini memastikan kesiapan tempur armada TNI Angkatan Laut tetap berada di level optimal.