Indonesia Tegaskan Politik Bebas Aktif di Hadapan 120 Negara pada ISF 2026

Jakarta, IDM – Indonesia kembali menegaskan komitmennya terhadap politik luar negeri bebas aktif dan pentingnya kerja sama internasional yang inklusif dalam menjaga stabilitas dunia.
Komitmen tersebut disampaikan saat Delegasi Republik Indonesia (Delri) menghadiri sesi pleno The 14th International Meeting of High-Ranking Officials Responsible for Security Matters yang berlangsung di Moskow, Rusia.
Pertemuan tingkat tinggi tersebut merupakan agenda utama dalam rangkaian The 1st International Security Forum (ISF) 2026 yang diselenggarakan di bawah naungan Dewan Keamanan Federasi Rusia.
Baca Juga: Indonesia Serukan Kerja Sama Keamanan Inklusif di Forum Internasional Moskow
Forum ini mempertemukan para pejabat tinggi keamanan, penasihat keamanan nasional, menteri, serta perwakilan organisasi internasional dari lebih dari 120 negara untuk membahas berbagai tantangan keamanan global yang semakin kompleks.
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Letjen TNI Tri Budi Utomo, dan turut diikuti perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Kementerian Luar Negeri, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), serta Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Dalam forum tersebut, Letjen TNI Tri Budi Utomo menyoroti perubahan mendasar yang tengah terjadi dalam tatanan global.
Menurutnya, dunia saat ini memasuki fase transisi dengan distribusi kekuatan yang semakin menyebar, namun di saat yang sama diwarnai meningkatnya ketidakpastian dan fragmentasi geopolitik.
“Dunia saat ini berada dalam transisi besar. Kekuatan menjadi semakin tersebar, namun lanskap internasional juga semakin terfragmentasi, tidak pasti, dan kompetitif. Karena itu, kerja sama keamanan harus dibangun secara praktis, konstruktif, dan saling menguntungkan,” ujar Budi.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Politik Luar Negeri Kemenko Polkam, Duta Besar Mohammad K. Koba, menyampaikan pandangan Indonesia mengenai dinamika geopolitik yang berkembang pesat seiring munculnya tatanan dunia multipolar.
Menurut Koba, Indonesia memandang perubahan tersebut sebagai peluang untuk membangun sistem internasional yang lebih seimbang dan inklusif.
Namun, proses transisi tersebut harus dikelola secara hati-hati agar tidak memicu rivalitas blok yang dapat mengancam perdamaian dunia.
“Indonesia meyakini transisi menuju multipolaritas harus dikelola secara bijak. Multipolaritas tidak boleh menciptakan konfrontasi blok maupun memperdalam fragmentasi, tetapi harus membuka ruang lebih besar bagi dialog, saling menghormati, dan kerja sama praktis,” ungkap Koba.
Dalam sesi pleno itu, Indonesia juga menyoroti semakin besarnya ancaman keamanan nontradisional yang memerlukan respons kolektif dari komunitas internasional.
Beberapa isu yang mendapat perhatian antara lain keamanan maritim, ketahanan rantai pasok global, keamanan pangan dan energi, keamanan siber, serta perlindungan infrastruktur kritis nasional.
Indonesia menilai bahwa ancaman-ancaman tersebut tidak mengenal batas negara dan membutuhkan penguatan kerja sama lintas kawasan serta peningkatan kapasitas bersama untuk mengantisipasi dampaknya.
Pada kesempatan yang sama, Indonesia kembali menegaskan politik luar negeri bebas aktif sebagai landasan utama diplomasi nasional.
Melalui pendekatan tersebut, Indonesia berupaya menjaga hubungan baik dengan seluruh negara, tanpa terjebak dalam rivalitas kekuatan besar, sekaligus aktif berkontribusi dalam penyelesaian berbagai persoalan global.
Sikap tersebut juga tercermin dalam dukungan Indonesia terhadap arsitektur kawasan yang terbuka, inklusif, transparan, dan berbasis aturan, sejalan dengan prinsip ASEAN Centrality dan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP).
Baca Juga: Menko Polkam: Pemerintah Kerja Keras agar Dampak Geopolitik tak Terlalu Dirasakan Masyarakat
Keikutsertaan Indonesia dalam ISF 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi strategis antarnegara serta membangun rasa saling percaya di tengah meningkatnya tantangan keamanan global.
Indonesia meyakini dialog dan kerja sama yang setara merupakan kunci untuk menjaga stabilitas, perdamaian, dan keamanan dunia secara berkelanjutan.
“Indonesia akan terus mendorong kerja sama yang inklusif dan berorientasi pada solusi. Di tengah berbagai tantangan global, membangun kepercayaan dan memperkuat dialog menjadi fondasi utama untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan bersama,” pungkas Koba.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































