Gencatan Senjata, Hamas Kembali Bebaskan Tiga Sandera Israel

Jakarta, IDM – Hamas mulai menyerahkan tiga orang Israel yang disandera di Gaza pada Kamis (30/1), sebagai bagian dari pertukaran dengan 110 sandera Palestina dalam tahap akhir kesepakatan gencatan senjata.
Dilansir dari Reuters, Kamis (30/1), ketiga orang itu disandera saat Hamas melakukan serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Sedangkan, para sandera Palestina, yang mencakup 30 anak di bawah umur dan beberapa anggota militan yang terlibat dalam serangan mematikan di Israel, akan dibawa ke Tepi Barat atau Gaza dalam waktu yang belum ditentukan.
Baca Juga: Pesawat Tempur F-35 AS Jatuh di Alaska
Selain itu, Hamas dan Israel mengatakan bahwa lima warga negara Thailand yang diculik dalam serangan Hamas juga diperkirakan akan dibebaskan dalam perjanjian terpisah. Namun, tidak dijelaskan kapan perjanjian itu akan dilakukan.
Baca Juga: Konflik Hamas-Israel Sebabkan Gaza Dilanda Krisis dan Kehancuran
Pemerintah Israel melaporkan bahwa sekitar 1.200 orang tewas dan lebih dari 250 sandera diculik oleh Hamas. Israel menanggapi itu dengan menggencarkan serangan dan menewaskan lebih dari 47.000 warga Palestina. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































