DPR Nilai Status Siaga 3 TNI Cerminkan Kesiapsiagaan Adaptif dan Profesional

Jakarta, IDM – Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini, menilai perubahan status kesiagaan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Siaga 1 ke Siaga 3 sebagai bukti bahwa sistem pertahanan Indonesia memiliki mekanisme yang dinamis dan terukur.
Menurutnya, penyesuaian status tersebut merupakan bagian dari prosedur standar dalam manajemen kesiapan militer yang dirancang untuk merespons perkembangan situasi keamanan secara adaptif.
Langkah ini juga bertujuan memastikan seluruh unsur TNI tetap siaga menghadapi berbagai potensi ancaman tanpa menimbulkan kepanikan di masyarakat.
Baca Juga: Korut Dukung Pemimpin Tertinggi Baru Iran
“Dengan demikian, status kesiagaan bukan sekadar simbol, tetapi merupakan instrumen manajemen kesiapan pertahanan negara,” ujar Amelia.
Ia menambahkan perubahan status kesiagaan juga mencerminkan evaluasi berkala terhadap kondisi keamanan nasional.
Dengan evaluasi tersebut, tingkat kesiapan dapat disesuaikan secara proporsional sesuai perkembangan situasi strategis.
Amelia menjelaskan istilah Siaga 1, Siaga 2, dan Siaga 3 merupakan bagian dari terminologi internal militer atau “bahasa prajurit” dalam mengatur kesiapan satuan.
Baca Juga: Komisi I DPR Nilai Kebangkitan Jabatan Kaster TNI Bagian dari Modernisasi Organisasi
Namun demikian, ia menekankan pentingnya komunikasi publik yang jelas dan proporsional di era keterbukaan informasi.
Hal ini diperlukan agar masyarakat tidak salah menafsirkan makna dari perubahan status tersebut.
Komisi I DPR RI, lanjutnya, mendorong TNI untuk memastikan setiap kebijakan kesiagaan didasarkan pada analisis situasi yang akurat, koordinasi antarlembaga yang solid, serta penyampaian informasi yang tepat kepada publik.
Baca Juga: Komisi I DPR Nilai Penyesuaian Status Siaga TNI ke Level 3 Sudah Tepat dan Proporsional
Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Donny Pramono, menyampaikan bahwa saat ini jajaran TNI AD menerapkan status Siaga 3 setelah sebelumnya berada pada Siaga 1, sesuai arahan Panglima TNI.
Langkah tersebut dilakukan dalam rangka memperkuat pengamanan wilayah menjelang Hari Raya Idul Fitri.
“Status kesiagaan adalah instrumen penting dalam memastikan pertahanan negara tetap siap tanpa menciptakan kepanikan publik,” tegasnya. (Ykb)
Hankam

TNI AD Komitmen Usut Tuntas Insiden Penembakan di Pidie
Kodam Iskandar Muda melakukan investigasi menyeluruh terkait insiden penembakan yang menewaskan seorang warga saat penertiban bendera Bulan Bintang di Pidie, Aceh. Pemerintah juga menggandeng Komnas HAM untuk melakukan penyelidikan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































