HANKAM

TNI Perkuat Doktrin Pertahanan, Fokus Perang Siber hingga Ancaman Hibrida

Personel TNI
TNI perkuat doktrin pertahanan, perang siber hingga ancaman hibrida jadi perhatian.(Foto: Dok. Kodam Cendrawasih)

Jakarta, IDM –TNI memperkuat pemahaman doktrin pertahanan untuk mengantisipasi perkembangan ancaman modern yang semakin kompleks.

Tidak hanya menghadapi ancaman militer konvensional, TNI kini dituntut mampu merespons berbagai bentuk peperangan nonkonvensional, mulai dari perang siber, perang informasi, hingga perang kognitif.

Penguatan pemahaman tersebut dilakukan melalui Sosialisasi Doktrin TNI Perisai Trisula Nusantara (PTN) di Aula Tony Rompis, Makodam XVII/Cenderawasih, Jayapura.

Kegiatan ini diikuti sekitar 180 peserta secara luring dan 21 satuan secara daring dari pelbagai unsur TNI di wilayah Papua.

Mayjen TNI Putranto Gatot Sri Handoyo menyebut sosialisasi ini dilakukan untuk menyamakan persepsi seluruh jajaran TNI terhadap doktrin terbaru yang telah disahkan melalui Keputusan Panglima TNI Nomor 828/VII/2026.

Doktrin Perisai Trisula Nusantara sebagai pedoman strategis dalam penyelenggaraan tugas pokok pertahanan negara.

Sosialisasi ini dilakukan di tengah berkembangnya ancaman militer, nonmiliter, dan hibrida.

Dalam pemaparannya, Putranto menjelaskan karakter peperangan modern telah mengalami perubahan signifikan.

Kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), turut memengaruhi pola peperangan dan strategi pertahanan suatu negara.

Perang tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan senjata dan pertempuran fisik.

Serangan siber, manipulasi informasi, serta operasi yang menyasar persepsi dan pola pikir masyarakat juga merupakan ancaman yang harus diantisipasi.

Maka itu, Doktrin PTN mengedepankan strategi defensif aktif dengan memperkuat keterpaduan tiga matra TNI.

Implementasi doktrin ini sejalan dengan visi TNI PRIMA, yakni Profesional, Responsif, Integratif, Modern, dan Adaptif.

Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Tri Purwanto mengatakan, sosialisasi jadi momentum penting bagi seluruh jajaran untuk memahami arah kebijakan dan strategi pertahanan TNI.

"Kesamaan persepsi mengenai doktrin sangat diperlukan agar setiap satuan memiliki pedoman yang sama dalam berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai tugas serta tanggungjawab masing-masing," ujarnya.

Dia menambahkan, pemahaman doktrin tidak boleh berhenti pada peserta sosialisasi.

Materi tersebut harus diteruskan kepada seluruh prajurit di satuan masing-masing agar dapat diterapkan dalam pembinaan dan penggunaan kekuatan.

"Pemahaman terhadap Doktrin TNI Perisai Trisula Nusantara perlu diteruskan kepada seluruh prajurit sehingga implementasinya benar-benar menjadi pedoman dalam pelaksanaan tugas," kata Tri.

Dalam sesi diskusi, peserta turut membahas sejumlah isu strategis, antara lain ancaman hibrida, penerapan strategi defensif aktif, pembangunan kekuatan TNI, pembagian mandala pertahanan, serta sinergi dengan kementerian dan lembaga.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.