HANKAM

Antisipasi Ancaman Hibrida, Wakil KSAL Minta Doktrin TNI AL Harus Adaptif

Wakil KSAL Laksdya TNI Edwin
Wakil KSAL Laksdya TNI Edwin saat memimpin uji naskah II doktrin TNI AL di Mabesal, Cilangkap, Jakarta, Kamis (11/6). (Foto: Dok. Dispenal)

Jakarta, IDM – TNI AL tengah menggodok pembaruan aturan induk militer untuk menghadapi perubahan pola perang di era modern. Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Laksdya TNI Edwin meminta seluruh jajaran mematangkan regulasi tertinggi tersebut agar tidak gagap menghadapi tantangan global yang semakin rumit.

Edwin membuka langsung agenda uji naskah II doktrin TNI AL Jalesveva Jayamahe di Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal), Cilangkap, Jakarta, Kamis (11/6). Aturan ini menjadi pedoman tertinggi bagi prajurit matra laut dalam membina sekaligus menggunakan kekuatan militer negara.

Menurut Edwin, perkembangan teknologi membawa jenis bahaya baru yang tidak lagi konvensional. Atas dasar itu, hukum dasar pertempuran milik TNI AL wajib bertransformasi agar selalu siap menghadapi segala bentuk serangan, baik fisik maupun nonmiliter.

Baca Juga: Penekanan Aspek Sosial, Menhan Sjafrie Dorong Prajurit Yon TP Donor Darah Rutin ke Masyarakat

"Doktrin Jalesveva Jayamahe harus mampu menjawab tantangan lingkungan strategis yang semakin kompleks, termasuk ancaman nonmiliter, hibrida, dan perkembangan peperangan modern," kata
Edwin, dikutip dari keterangan Dispenal, Jumat (12/6).

Ancaman hibrida merupakan bentuk peperangan kombinasi yang menggabungkan kekuatan militer konvensional dengan taktik nonmiliter, seperti serangan siber, penyebaran berita bohong, hingga tekanan ekonomi. Edwin menilai, skenario rumit tersebut menuntut pertahanan negara kepulauan untuk jauh lebih fleksibel.

"Penyusunan doktrin harus adaptif terhadap perkembangan teknologi, dinamika keamanan global, serta kebutuhan pertahanan negara sebagai negara kepulauan dan maritim," tutur Edwin.

Selain mengantisipasi pola perang baru, pembenahan aturan induk ini bertujuan meningkatkan taring militer Indonesia di mata dunia. Regulasi yang matang akan menjadi fondasi utama dalam membangun kekuatan laut yang disegani lawan.

Baca Juga: Sisir Laut Natuna Utara, KRI John Lie-358 Pantau Pergerakan Kapal Asing

"Doktrin yang disusun harus mampu mendukung terwujudnya postur TNI Angkatan Laut yang memiliki daya gentar, daya tangkal, dan daya tindak yang optimal," tegas Edwin.

Edwin berharap forum di Mabesal ini mengumpulkan koreksi dan masukan yang objektif dari para perwira yang hadir. Evaluasi tersebut sangat dibutuhkan agar aturan yang disepakati nanti bisa langsung diterapkan secara nyata di medan tugas.

Melalui landasan hukum yang kuat dan relevan, TNI AL optimistis bisa mengawal keutuhan wilayah perairan nasional secara maksimal. Sinergi dan ketajaman doktrin baru ini menjadi kunci sukses militer dalam menjaga kedaulatan NKRI.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.