HANKAM

TNI AL-Belanda Soroti Ancaman Hibrida: Kabel Bawah Laut jadi Sasaran Empuk!

Kapusjianmar
Delegasi TNI AL menerima kunjungan tim peneliti dari Kementerian Pertahanan Belanda di Erasmus Huis, Jakarta, Selasa (10/2). (Foto: Dok. Dispenal)

Jakarta, IDM – TNI AL dan Kementerian Pertahanan Belanda membedah ancaman serius yang mengintai infrastruktur bawah air. Kedua pihak menilai kabel internet dan pipa migas kini menjadi target paling rawan dalam skenario perang hibrida (hybrid warfare).

Delegasi TNI AL menyampaikan peringatan strategis ini saat menerima kunjungan tim peneliti dari Kementerian Pertahanan Belanda. Pertemuan tersebut berlangsung di gedung Erasmus Huis, Kedutaan Besar Belanda, Jakarta, Selasa (10/2).

Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) Seskoal Laksamana Pertama Salim, memimpin langsung delegasi Indonesia. Ia bersama Ketua Delegasi Belanda Laksamana Muda Jeanette Morang, sepakat dasar laut (seabed) telah berubah menjadi medan strategis yang aktif diperebutkan.

Baca Juga: Panglima TNI Tunjuk Kolonel Sadarianto jadi Dankopaska, Ini Rekam Jejaknya

Waspada Serangan Zona Abu-abu

Forum diskusi menyoroti kerentanan infrastruktur bawah laut atau critical underwater infrastructure. Infrastruktur vital seperti kabel komunikasi dan pipa energi sering memiliki karakteristik tersembunyi sehingga sulit diawasi.

Kondisi ini memancing musuh melancarkan ancaman zona abu-abu (gray-zone). Musuh kerap merancang serangan hibrida di area ini secara sengaja agar sulit melacak pelakunya (hard to attribute) dan menciptakan ambiguitas politik.

Delegasi TNI AL
(Foto: Dok. Dispenal)

"Gangguan terhadap seabed di satu negara berpotensi menimbulkan dampak lintas batas yang signifikan terhadap ekonomi digital, energi, komunikasi, hingga stabilitas kawasan," bunyi poin krusial dalam diskusi tersebut, dikutip dari keterangan Dispenal.

Baca Juga: Wakil Panglima TNI: Bulan Ini akan Ditentukan Jumlah Pasukan Perdamaian yang Dikirim ke Gaza

RI Bawa Isu ke Asean

Melihat posisi vital Indonesia sebagai negara kepulauan, Salim menegaskan komitmen TNI AL. Pihaknya siap menggaungkan kewaspadaan terhadap isu keamanan dasar laut ini agar mendapat perhatian serius di tingkat Asean.

"TNI Angkatan Laut memandang perlu menyiapkan usulan konseptual mengenai penataan dan pengamanan sistem pipa serta kabel bawah laut untuk mengusungnya dalam berbagai forum diskusi," tegas Salim.

Kolaborasi strategis ini menjalankan instruksi langsung Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali. Ali memerintahkan jajarannya memperkuat kolaborasi internasional demi menjaga stabilitas keamanan nasional di laut. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.