18 Penyelam TNI AL dan US Navy Sisir Bangkai Kapal USS Houston di Selat Sunda

Jakarta, IDM- Sebanyak 18 penyelam gabungan dari TNI AL dan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) terjun ke perairan Selat Sunda, Kamis (5/11). Tim gabungan ini melaksanakan misi penyelaman di lokasi tenggelamnya kapal penjelajah berat, USS Houston.
Penyelaman ini merupakan bagian dari latihan bersama Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) 2026. Sebanyak 12 personel merupakan penyelam TNI AL dari satuan Naval Historical Dive (NHD), dan enam lainnya adalah personel Naval History and Heritage Command (NHHC) Angkatan Laut Amerika Serikat.
Wakil Komandan Komando Pasukan Katak (Kopaska) Kolonel Laut (PM) Agus Yudho Kristianto menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk diplomasi sejarah antarkedua negara.
"Historical Dive USS Houston ini merupakan bagian dari diplomasi sejarah yang dilakukan oleh TNI AL bersama Angkatan Laut Amerika Serikat," ujar Agus di Banten, dikutip dari keterangan Dinas Sejarah Angkatan Laut, Jumat (6/11).
Lebih lanjut, ia meyakini penyelaman bersama ini akan membuka ruang untuk kolaborasi dan kerja sama yang lebih erat antara angkatan laut kedua negara di masa depan. Operasi ini melibatkan berbagai unsur TNI AL, termasuk Dinas Sejarah Angkatan Laut, Kopaska, Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Koppeba), serta Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Banten.
Atase Korps Marinir Amerika Serikat untuk RI Letkol Tyler Bahn, menyambut baik kolaborasi ini dan menekankan pentingnya perlindungan terhadap situs bersejarah tersebut.

“Ini merupakan upaya selama bertahun-tahun bersama mitra Indonesia untuk meningkatkan perhatian dan melindungi situs peristirahatan terakhir korban perang Amerika Serikat serta kapal ini, yang menjadi pengingat penting dari masa lalu,” kata Bahn.
Kapal perang USS Houston karam bersama kapal Australia HMAS Perth dalam Pertempuran Selat Sunda pada 28 Februari hingga 1 Maret 1942. Bangkai kedua kapal tersebut kini menjadi situs warisan maritim penting bagi Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia.
Hibah AS untuk Perlindungan Bangkai Kapal
Pemerintah AS sebelumnya memberikan hibah senilai US$ 227.000 atau sekitar Rp 4 miliar kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk melestarikan bangkai kapal USS Houston di Teluk Banten. Program ini berjalan selama 24 bulan dari akhir 2026 hingga pertengahan 2028 dengan fokus pada pengawasan warga, pencegahan pencurian material kapal, serta mitigasi aktivitas penangkapan ikan yang merusak.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan, perlindungan situs tersebut merupakan tanggung jawab Indonesia dalam menjaga warisan budaya bawah air di perairan nasional.
Sebagai langkah pengamanan, KKP membentuk dan melatih tiga kelompok masyarakat pengawas di Pulau Panjang, Karangantu, dan Bojonegara. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP, I Nyoman Radiarta, menambahkan bahwa program tersebut mencakup pelatihan teknis, pembuatan alur pelaporan, pemantauan situs, hingga edukasi publik.
"Pengawasan berbasis masyarakat diharapkan melengkapi penegakan hukum oleh instansi berwenang sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga warisan maritim," ujar Nyoman.
Hankam

Perintah Menhan Sjafrie, Satgas PKH Segel Tambang Emas Ilegal di TNKS Jambi yang Gunakan 119 Hektare Kawasan Hutan
Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) menyegel pertambangan emas ilegal seluas 119,32 hektare di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi, atas perintah Menhan Sjafrie Sjamsoeddin.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































