DPR Kutuk Agresi Israel-AS ke Iran, Desak Perang Segera Diakhiri

Jakarta, IDM – Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta, mengecam keras agresi militer yang dilakukan Israel dengan dukungan Amerika Serikat terhadap Iran pada Sabtu pagi waktu setempat.
Ia menilai tindakan tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah dan berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas.
Sukamta menegaskan bahwa DPR RI menolak segala bentuk agresi yang melanggar kedaulatan negara. “Kami mengecam dan menolak agresi militer yang dilancarkan oleh Israel, dengan dukungan dan partisipasi Amerika, terhadap wilayah Iran. Perang harus dihentikan, karena ini merupakan eskalasi berbahaya yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan,” tegas Sukamta, Dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (2/3).
Menurut legislator asal Daerah Istimewa Yogyakarta itu, serangan tersebut merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip kedaulatan negara dan hukum internasional.
Baca Juga: Konflik Pakistan vs Afghanistan Memanas, Komisi I Minta Opsi Evakuasi Disiapkan
Ia mengingatkan bahwa setiap negara memiliki hak mempertahankan wilayahnya sesuai ketentuan hukum yang berlaku secara global.
Sukamta juga menyoroti tren perluasan konfrontasi yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Ia meminta pertanggungjawaban Israel dan Amerika Serikat atas dampak eskalasi yang dapat menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam pusaran perang terbuka.
“Ini mencerminkan kecenderungan perluasan konflik yang sangat berbahaya. Dunia tidak boleh membiarkan situasi ini berkembang tanpa kontrol,” ujarnya.
Baca Juga: DPR: Konflik Iran-AS dan Israel Bisa Meluas jadi Perang Regional
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar perhatian dunia yang kini tertuju pada konflik Iran tidak dimanfaatkan untuk meningkatkan agresi di wilayah Palestina, termasuk Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem.
“Jangan sampai perhatian dunia yang sedang tertuju terhadap konflik di Iran dimanfaatkan untuk meningkatkan agresi di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem,” katanya.
Ia juga mendesak komunitas internasional untuk menjaga stabilitas kemanusiaan di Gaza, serta memastikan tidak terjadi praktik penipuan harga dan monopoli yang memperparah penderitaan warga sipil di tengah situasi darurat.
Terkait langkah diplomatik Indonesia, Sukamta menyatakan dukungan terhadap kesiapan Prabowo Subianto apabila dibutuhkan untuk memediasi Iran dan blok Amerika Serikat-Israel.
Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Serius Tanggapi Situasi Meksiko, Perlindungan WNI jadi Prioritas
Menurutnya, Presiden memiliki kapasitas komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk Presiden AS Donald Trump.
“Sebagai orang yang bisa berkomunikasi dengan Trump dan Iran, saya kira patut kita dukung upaya presiden tersebut. Ini juga bagian dari realisasi amanat konstitusi untuk menjaga perdamaian dunia secara aktif,” ujarnya.
Ia mengakui situasi yang berkembang sangat kompleks dan sulit, namun menegaskan bahwa setiap upaya positif dan konstruktif tetap harus ditempuh.
“Walaupun kita tahu situasi memang sangat sulit, tetapi semua upaya positif dan konstruktif patut ditempuh,” pungkasnya. (Ykb)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































