Usai Tertunda, Hamas-Israel Kembali Melakukan Pertukaran Sandera

Jakarta, IDM – Hamas dan Israel kembali melakukan pertukaran sandera. Ratusan tawanan Palestina dibebaskan dari Tel Aviv dan ditukar dengan empat jasad sandera Hamas.
Dilansir dari Reuters, Kamis (27/2), kantor Perdana Menteri Israel mengatakan bahwa pihaknya telah menerima peti mati yang berisi jasad keempat sandera. Israel juga akan melakukan pemeriksaan forensik untuk melihat penyebab kematian mereka.
Baca Juga: Presiden Xi Dukung Upaya Akhiri Perang Rusia-Ukraina
Hamas mengidentifikasi mereka sebagai Tsachi Idan, Itzhak Elgarat, Ohad Yahalomi, dan Shlomo Mantzur, yang semuanya ditangkap saat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Pertukaran sandera itu akhirnya terwujud usai Israel dan Hamas saling tuduh melakukan pelanggaran. Israel telah menunda pembebasan sekitar 600 sandera Palestina sejak Sabtu lalu, karena Hamas disebut telah memperlakukan para sandera dengan kejam.
Baca Juga: Israel dan Hamas Sepakat Kembali Melakukan Pertukaran Sandera
Kendati demikian, kedua pihak belum menyepakati langkah selanjutnya karena tahap satu gencatan senjata dijadwalkan berakhir pada Minggu ini. Jika keduanya sepakat, gencatan senjata dapat lanjut ke tahap dua. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































