Ukraina Ungkap 8 WNI jadi Tentara Rusia, Ini Respons Kemlu

Jakarta, IDM – Pemerintah Indonesia tengah melakukan verifikasi informasi mengenai dugaan keterlibatan sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) dalam Angkatan Bersenjata Federasi Rusia.
"Informasi mengenai identitas, status kewarganegaraan, proses perekrutan, serta bentuk keterlibatan individu yang disebutkan masih perlu dipastikan lebih lanjut," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Yvonne Mewengkang, Senin (31/8).
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki ketentuan hukum yang jelas mengenai keterlibatan WNI dalam dinas militer negara asing, termasuk konsekuensinya terhadap status kewarganegaraan. Namun, ketentuan itu didasarkan pada fakta yang telah terverifikasi dan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.
Baca Juga: Desak Trump, Presiden Iran Sebut Perselisihan Dapat Selesai melalui Dialog
"Pemerintah Indonesia juga akan mendalami kemungkinan adanya unsur penipuan, eksploitasi, atau perekrutan melalui tawaran pekerjaan yang tidak sesuai dengan tujuan sebenarnya. Apabila terdapat WNI yang menjadi korban dalam proses tersebut, Pemerintah Indonesia akan mengambil langkah pelindungan yang diperlukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," jelasnya.
Ia mengimbau WNI untuk berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan di wilayah konflik maupun tawaran yang berpotensi melibatkan mereka dalam kegiatan militer negara asing. Ia pun menegaskan komitmen dalam mendorong penyelesaian damai konflik Rusia–Ukraina.
"Apabila keterlibatan WNI dalam angkatan bersenjata negara asing dimaksud terverifikasi, hal tersebut merupakan tindakan individual dan tidak merepresentasikan kebijakan maupun posisi Pemerintah Indonesia," imbuhnya.
Baca Juga: Korut Kecam Latihan Militer AS dan Sekutu, Ancam Respons Tegas
Sebelumnya, Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (Foreign Intelligence Service of Ukraine/FISU) melalui laman resminya szru.gov.ua pada Kamis (27/8), merilis dokumen 8 WNI yang menjadi tentara Rusia.
Dikatakan bahwa Rusia mengiming-iming bayaran tinggi, tugas nontempur, kewarganegaraan Rusia, dan tunjangan sosial kepada mereka untuk bergabung. FISU menuturkan, Rusia juga menjerat warga negara Nepal, Kuba, Kenya, dan India. Sebagian besar dari mereka disebut ditempatkan di garis depan pertempuran tanpa pelatihan apa pun, dan beberapa di antaranya tewas dalam beberapa minggu pertama.
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































