Ukraina Sediakan Layanan ‘Hotline’ untuk Tentara Rusia yang Ingin Menyerahkan Diri

Jakarta, IDM – Pemerintah Ukraina memiliki sebuah layanan khusus atau hotline bagi tentara Rusia yang ingin menyerah. Dengan menghubungi nomor khusus atau melalui aplikasi pesan Telegram, program "I Want To Live" telah dimulai sejak September tahun lalu yang diatur oleh Departemen Tawanan Perang Ukraina.
Dilansir dari Los Angeles Times, Rabu (8/3), Vitaly Matvienko juru bicara departemen itu mengatakan bahwa tim "I Want to Live" terdiri dari 10 orang yang ditempatkan dalam suatu wilayah rahasia, semuanya memiliki latar belakang psikologi yang mampu memberikan instruksi secara tenang, ringkas dan jelas menggunakan bahasa Rusia sambil waspada terhadap kemungkinan tipu daya dari intelijen Putin.
Hotline ini juga digunakan oleh rakyat sipil yang membutuhkan bantuan, sebanyak lebih dari 13,3 juta nomor telah menghubungi dan 7,6 juta diantaranya berasal dari wilayah Rusia. Meskipun begitu, Matvienko tidak memberitahukan berapa banyak tentara Rusia yang telah menyerahkan diri melalui layanan tersebut.
Baca Juga: Prabowo Diskusi Teknologi Militer Modern Bersama Mansour bin Zayed di UEA
Lebih lanjut, Matvienko menyadari resiko yang sangat besar bagi tentara Rusia yang menyerahkan diri di medan tempur. Protokol yang harus dilakukan berupa melambaikan kain putih, melepas magasin dari senjata mereka, menjatuhkan senjata ke tanah dan melepas pelindung tubuh maupun helm. Mereka akan diyakinkan untuk selamat pulang dan sebagai timbal balik, pihak Ukraina akan menanyakan informasi-informasi penting.
“Secara umum, ini adalah proses yang sangat berbahaya. Tetapi protokol yang ketat, yang telah diatur dengan jelas, meningkatkan peluang setiap orang untuk tetap hidup,” jelasnya.
Tentara Rusia mengetahui info hotline tersebut dari mulut ke mulut atau dari secarik kertas yang dibagikan secara diam-diam. Mereka yang ingin menyerahkan diri, akan berupaya untuk mendapatkan ponsel manapun dan menghubungi layanan itu.
Baca Juga: Kunci Kekuatan Bawah Laut, Rusia Tingkatkan Armada Kapal Selam
Jika mereka menyerahkan diri dalam kelompok, prajurit dengan pangkat tertinggi yang harus melakukan protokol tersebut mewakili rekannya. Bagaimana pun kondisinya, program "I Want to Live" memiliki aturan yang menjamin keselamatan si tentara.
“Kami dapat berkoordinasi dengan unit khusus yang akan mengeluarkan Anda dengan aman dan sehat,” ujarnya.
Mobilisasi besar-besaran yang dilakukan Putin nyatanya menjadi boomerang karena para tentara yang di rekrut kebanyakan tidak pernah memiliki pelatihan tempur maupun berkeinginan untuk membela Rusia. Sehingga, bagi pasukan Ukraina yang kalah jumlah, layanan hotline ini juga diharapkan bisa melemahkan pasukan Putin yang lebih banyak. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































