Ukraina dan Rusia Lakukan Pertukaran Ratusan Tawanan Perang

Jakarta, IDM - Ukraina dan Rusia melakukan pertukaran tawanan perang pertama dalam hampir lima bulan, dengan lebih dari 200 orang dibebaskan oleh masing-masing pihak usai negosiasi yang dimediasi oleh Uni Emirat Arab (UEA).
Baca Juga: Turki Tangkap 34 Orang yang Diduga Pengintai Israel
Dilansir dari AP, Kamis (4/1), Kementerian Pertahanan Rusia menyebutkan 248 tawanan telah diserahkan oleh Ukraina. Sedangkan, sebanyak 230 orang telah berhasil dipulangkan ke tanah Ukraina.
Kementerian luar negeri UEA mengakui peran mereka, dan keberhasilan pertukaran tawanan ini dimungkinkan oleh “hubungan persahabatan yang kuat antara UEA dan Federasi Rusia serta Ukraina, yang didukung oleh seruan berkelanjutan di tingkat tertinggi.”
Baca Juga: Presiden Ukraina Sebut Rusia Alami Kerugian Besar di Medan Tempur
Meskipun kurangnya pembicaraan tentang cara mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 22 bulan tersebut, kedua negara telah banyak melakukan pertukaran tawanan dan sebelumnya dilakukan pada Agustus tahun lalu. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































