Trump Peringatkan Iran Soal Tarif Selat Hormuz

Jakarta, IDM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa proses diplomatik dengan Iran akan berakhir jika Teheran mencoba menetapkan tarif bagi kapal yang lalu lintas di Selat Hormuz.
Baca Juga: Iran Beri Penjelasan Terkait Walk Out dari Perundingan dengan AS
Melalui platform Truth Social, Rabu (24/6), Trump mengklaim bahwa para pejabat Iran meyakinkan Washington tidak ada "pungutan tol, biaya asuransi, dan biaya lain apa pun" yang diminta atau diterima dari kapal-kapal yang melintasi jalur air strategis tersebut.
"Jika informasi ini salah, negosiasi akan segera berakhir," tulis Trump, seraya menegaskan bahwa hingga kini tidak ada dana yang diberikan ke Teheran.
Baca Juga: Indonesia Dorong Refleksi Kritis Dewan HAM PBB
Berdasarkan klausul 5 dari Islamabad Understanding, Iran akan berunding dengan Oman mengenai pengelolaan dan layanan maritim Selat Hormuz di masa mendatang. Iran juga akan berkoordinasi dengan negara-negara pesisir Teluk lainnya dan sesuai dengan hukum internasional serta hak kedaulatan negara-negara yang berbatasan dengan jalur air strategis tersebut.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































