Spekulasi Negoisasi Damai, Zelensky: Ukraina Tak Akan Serahkan Wilayah ke Rusia

Jakarta, IDM – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky merespons adanya spekulasi internasional terkait kemungkinan negosiasi perdamaian dengan cara pertukaran wilayah.
Zelensky menegaskan Kyiv tidak akan menyerahkan wilayah apa pun kepada Moskow.
"Konstitusi Ukraina tidak memungkinkan penyerahan wilayah atau perdagangan tanah," ungkap Zelensky dalam konferensi pers bersama Komisi Eropa seperti dikutip Fox News, Senin (18/8).
Zelensky menyebut Rusia selama 12 tahun terakhir terus berusaha merebut seluruh kawasan Donbas di timur Ukraina, yang meliputi oblast Donetsk dan Luhansk, namun gagal.
Baca Juga: Satgas Garuda Merah Putih-II Siap Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza
Adapun Donbas merupakan wilayah penting dengan industri batu bara dan baja sebagai tulang punggung ekonomi nasional Ukraina.
Zelensky mengatakan persoalan wilayah hanya dapat dibicarakan langsung oleh para pimpinan Ukraina maupun Rusia, yang ditengahi oleh Amerika Serikat.
"Maka isu teritorial ini sangat penting, isu ini seharusnya hanya dibahas oleh para pemimpin Ukraina dan Rusia dalam (perundingan) trilateral dengan Ukraina, Amerika Serikat dan Rusia," ujarnya.
Meski memiliki keinginan untuk berdialog, Zelensky mengaku belum mendapatkan sinyal positif dari Moskow untuk kesediaan menghadiri pertemuan.
Baca Juga: Putin Bertemu Trump di Alaska, Tak Ada Kesepakatan Konkrit Terkait Ukraina
Di sisi lain, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, mendukung keinginan Zelensky untuk berdialog dengan Rusia dan AS tentang pembagian wilayah.
"Sehubungan dengan masalah teritorial apa pun di Ukraina, posisi kami jelas, perbatasan internasional tidak dapat diubah dengan paksa," ungkapnya.
"Ini adalah keputusan yang harus dibuat oleh Ukraina dan Ukraina sendiri dan keputusan ini tidak dapat diambil tanpa Ukraina di meja perundingan," papar von der Leyen.
Diketahui, pembahasan mengenai pembagian wilayah muncul usai Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu Presiden AS Donald Trump di Alaska, Jumat silam.
Baca Juga: Perwira Psikologi TNI Berikan Pelatihan Self-Care bagi Personel Sipil dan Militer UNIFIL
Dalam pertemuan, Putin menjelaskan syarat mengakhiri perang, termasuk tuntutan menguasai sebagian wilayah timur Ukraina.
Trump kemudian memberi sinyal agar Zelensky mempertimbangkan kesepakatan tersebut karena Rusia memiliki kekuatan yang sangat besar.
Terpisah, Menteri Luar Negeri Marco Rubio membantah anggapan bahwa Trump akan memaksa Kyiv menyerahkan wilayahnya.
"Presiden telah mengatakan bahwa dalam hal wilayah, ini adalah hal-hal yang harus diputuskan oleh Zelensky," ujar Rubio. (Ykb)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































