INTERNASIONAL

Sekjen PBB: AS Anggap Kekuasaan Lebih Penting daripada Hukum Internasional

Sekjen PBB Antonio Guterres
Sekjen PBB Antonio Guterres. (Foto: Dok. Un.org)

Jakarta, IDM – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menilai AS telah sengaja mengabaikan hukum internasional dan percaya bahwa kekuasaan jauh lebih penting.

Hal itu ia ungkapkan menanggapi serangkaian langkah agresif Pemerintahan Donald Trump, termasuk operasi militer dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro serta ambisi Trump untuk memiliki Greenland.

Selain itu, Trump juga pernah melontarkan kritik keras terhadap kinerja PBB saat berpidato di Sidang Umum PBB September tahun lalu. Ia menilai PBB gagal menciptakan perdamaian, dan mengklaim pemerintahannya lebih mampu mewujudkan hal itu dengan mengakhiri tujuh perang.

Baca Juga: Berambisi Kuasai Greenland, Trump Ingin Singkirkan Ancaman Rusia

"Ketika melihat kebijakan AS saat ini, terdapat keyakinan yang jelas bahwa solusi multilateral dianggap tidak relevan, dan yang dianggap penting adalah penggunaan kekuatan serta pengaruh AS, dan dalam hal ini, terkadang mengabaikan norma-norma hukum internasional," kata Guterres melansir BBC, Senin (19/1).

Lebih lanjut, Guterres menyatakan bahwa Dewan Keamanan PBB, yang dirancang untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional, tidak lagi mewakili dunia dan tidak efektif. Sebab, hak veto telah digunakan untuk memajukan kepentingan anggota individu.

Baik Rusia maupun AS telah menggunakan kekuasaan ini untuk menggagalkan upaya global melalui resolusi dalam mengakhiri perang di Ukraina dan Gaza. Anggota Dewan Keamanan PBB juga tidak mewakili semua wilayah di dunia, karena tiga negara Eropa merupakan anggota dewan tersebut.

Baca Juga: Delapan Negara Eropa Kecam Ancaman Tarif Trump Terkait Greenland

Guterres menyerukan perubahan komposisi dewan untuk "mendapatkan kembali legitimasi dan memberi suara kepada seluruh dunia". Ia pun menyoroti perlunya membatasi hak veto guna menghindari blokade terhadap perdamaian.

Di tengah dinamika ini, para pemimpin dunia turut menyerukan pentingnya multilateralisme dan menghormati hukum internasional. Dengan demikian, Guterres mengaku tetap positif.

"Saya pikir orang terkadang enggan untuk hadapi mereka yang berkuasa. Tetapi kenyataannya adalah jika kita tidak menghadapi mereka yang berkuasa, kita tidak akan pernah bisa memiliki dunia yang lebih baik," pungkasnya. (bp)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.