Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Prabowo Libatkan TNI-Polri dalam Pembinaan Guru

Jakarta, IDM – Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan 166 Sekolah Rakyat yang berpusat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Dalam kesempatan itu, ia menyoroti pentingnya kedisiplinan dan kerapian guru sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Baca Juga: Presiden Prabowo Matangkan Strategi Industri Nasional di Hambalang
Menurut Presiden Prabowo, penampilan guru akan berpengaruh langsung terhadap sikap dan kebiasaan siswa di lingkungan sekolah.
“Saya minta para guru memberi yang terbaik, memberi contoh. Guru harus selalu memberi contoh,” ungkap Prabowo.
Untuk memastikan standar tersebut berjalan, Prabowo menyatakan siap melibatkan TNI dan Polri jika dibutuhkan, khususnya dalam pembinaan sikap dan kerapian.
Baca Juga: Gugur Ditembak OPM, Kopda Satria Taopan Dimakamkan di TMP Dharma Loka Kupang
“Mungkin dikunjungi bergiliran dan dibina, diberi cara berpakaian yang baik, cara pakai dasi yang baik,” ujarnya.
Prabowo juga meminta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya untuk mendukung Menteri Sosial Saifullah Yusuf dalam memastikan seragam guru Sekolah Rakyat sesuai standar. (Ykb)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































