Proyektil Israel dan Hizbullah Nyasar ke Markas Pasukan Perdamaian, UNIFIL Dorong Kedua Pihak Gencatan Senjata

Jakarta, IDM – Pihak United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) mendorong Israel dan Hizbullah melaksanakan gencatan senjata setelah konflik berdampak pada pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon.
UNIFIL menyatakan, proyektil dan peluru dari Israel dan Hizbullah mengakibatkan prajurit dari pasukan perdamaian gugur dan menderita luka.
“Hizbullah dan tentara Israel menembakkan proyektil dan peluru dekat posisi kami, tindakan yang secara tragis telah menyebabkan kematian dan cedera di antara penjaga perdamaian kami,” kata juru bicara UNIFIL Kandice Ardiel dalam keterangan pers, dikutip Senin (6/4).
Baca Juga: Islamabad Accord, Proposal untuk Akhiri Perang Amerika-Iran
Oleh karena itu, UNIFIL mendorong militer Israel dan Hizbullah untuk merundingkan gencatan senjata.
“Kami lebih lanjut mendesak mereka untuk meletakkan senjata dan bekerja dengan serius menuju gencatan senjata, karena tidak ada solusi militer untuk konflik ini,” ujar Ardiel.
UNIFIL mengatakan, konflik hanya akan memperpanjang kehancuran lebih lanjut pada kedua belah pihak dan menambah korban jiwa.
Lebih lanjut, UNIFIL khawatir kehadiran kombatan-kombatan di sekitar markas pasukan perdamaian PBB. Pasukan perdamaian yang sedang bekerja berpotensi menjadi sasaran.
“Ini menempatkan penjaga perdamaian dalam bahaya. Kami mengingatkan semua aktor tentang dasar kewajiban mereka untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel PBB serta menghormati peraturan tidak dapat diganggu gugatnya markas-markas PBB,” kata Ardiel.
Diketahui, tiga personel UNIFIL gugur akibat rangkaian insiden pada 29-30 Maret 2026. Ketiga personel tersebut dari Indonesia, dalam hal ini TNI.
Baca Juga: Cina Siap Kerja Sama dengan Rusia Redakan Konflik Timur Tengah
Mereka yang gugur antara lain Mayor Anumerta Zulmi Aditya, Serka Anumerta M Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadon. Sementara enam prajurit TNI lain masih dirawat karena luka.
Farizal Rhomadon gugur setelah artileri meledak di sekitar markas kontingen Indonesia yang bertugas sebagai pasukan UNIFIL di Adshit al-Qusayr, Lebanon Selatan, Minggu (29/3). Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) yang disiarkan Anadolu Ajansi, penembakan artileri itu dari Israel. Namun, UNIFIL masih mendalami asal artileri tersebut.
Sementara itu, Zulmi Aditya dan M Nur Ichwan gugur setelah kendaraan Tim Escort atau pembuka ambulans dari Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tergabung dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR) meledak saat melaksanakan pengawalan konvoi combat support service unit (CSSU) di sekitar Bani Hayyan, Sektor Timur, Lebanon Selatan, Senin (30/3).
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































