Presiden Prabowo Tegaskan Syarat Pemimpin: Berani, Bijak, dan Punya Empati

Jakarta, IDM – Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan keberanian merupakan salah satu syarat penting dalam kepemimpinan.
Namun, keberanian tanpa kebajikan dan empati justru dapat berubah menjadi kekuatan yang membahayakan orang-orang yang dipimpin.
Pesan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri peluncuran buku Sepuluh Karya Nyata untuk Negeri dan perayaan ulang tahun ke-50 Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Djakarta Theater, Jakarta.
Prabowo mengatakan kepemimpinan tidak dapat diperoleh secara instan maupun diberikan sebagai hadiah. Menurutnya, karakter kepemimpinan terbentuk melalui kerja keras dan berbagai pengalaman hidup.
“Kepemimpinan tidak bisa diberi sebagai hadiah. Kepemimpinan itu didapatkan melalui kerja keras, melalui sikap, melalui nilai-nilai yang ada dalam seorang,” kata Prabowo.
Ia menilai berbagai hambatan justru menjadi ruang pembentukan karakter.
“Kondisi yang memberatkan, kondisi rintangan, kondisi hambatan, justru kondisi-kondisi ini yang membesarkan seorang pemimpin,” ujarnya.
Prabowo kemudian menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki keberanian untuk mengambil keputusan.
Akan tetapi, keberanian tersebut harus dibatasi dan diarahkan oleh nilai-nilai moral.
“Keberanian syarat jadi pemimpin. Tapi keberanian harus juga ditopang oleh nilai kebaikan, nilai kebajikan, nilai-nilai empati,” tegasnya.
Menurutnya, keberanian yang tidak dibarengi kebijaksanaan dapat melahirkan pemimpin yang ceroboh dan berpotensi merugikan pihak yang berada di bawah kepemimpinannya.
“Berani tanpa kebajikan akan muncul sebagai pemimpin, tapi mungkin pemimpin yang tidak hati-hati, pemimpin yang tidak arif, pemimpin yang ujungnya membahayakan yang dipimpin,” ungkap Prabowo.
Sebagai sosok yang memiliki latar belakang panjang di lingkungan militer, Prabowo juga membagikan pengalamannya dalam membaca karakter seseorang.
Ia mengatakan interaksi singkat terkadang sudah cukup untuk menangkap karakter dan kecenderungan seseorang.
“Kita bisa menangkap apakah itu dikatakan getaran, apa dikatakan insting, mungkin bahasa Inggrisnya vibes atau chemistry. Dan kita bisa menilai dari dua-tiga kalimat, dari pembicaraan, dari tanggapan,” tuturnya.
Prabowo juga menyoroti tantangan generasi mendatang. Menurutnya, Indonesia harus memastikan generasi penerus memiliki mental kuat untuk menghadapi persaingan antarbangsa.
“Apakah generasi-generasi penerus kita sekarang ini nanti kuat menghadapi persaingan antarbangsa yang semakin keras? Atau mudah menyerah, mudah mengeluh, mudah minta bantuan?,” paparnya.
Baca Juga: Menko Polkam: Pemerintah Hormati Hak Demonstrasi, Anarkisme Tidak akan Ditoleransi!
Bagi Prabowo, pertanyaan tersebut bukan sekadar persoalan pendidikan, melainkan menyangkut masa depan kekuatan nasional.
Generasi yang tangguh diperlukan untuk menghadapi perubahan geopolitik, kompetisi teknologi, tantangan ekonomi, hingga dinamika keamanan global.
Kepemimpinan, dalam pandangan Prabowo, pada akhirnya bukan sekadar persoalan keberanian berada di depan.
Kepemimpinan adalah kemampuan berdiri paling depan ketika menghadapi kesulitan, mengambil keputusan ketika situasi sulit, sekaligus memastikan keberanian tersebut tetap berpijak pada kebajikan.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































