Presiden Prabowo Serukan Persatuan: Hentikan Pertikaian, Selamatkan Kekayaan Bangsa!

Jakarta, IDM – Presiden RI Prabowo Subianto menyerukan seluruh elemen bangsa untuk menghentikan pertikaian dan memperkuat persatuan nasional sebagai fondasi utama menjaga kedaulatan serta mengamankan kekayaan Indonesia.
Pesan itu disampaikan saat memberikan sambutan pada peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (12/7).
Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan perbedaan suku, agama, latar belakang maupun afiliasi politik tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan.
Menurutnya, seluruh anak bangsa memiliki tanggung jawab yang sama untuk membangun Indonesia menjadi negara yang kuat, mandiri, dan sejahtera.
"Untuk apa kita bertikai, kita ini satu keluarga apa pun latar belakang kita, apa pun suku kita, apa pun partai kita. Semua partai banyak patriot dan semua partai banyak bajingannya juga," ujar Prabowo.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks dinamika politik nasional. Presiden menilai setiap partai politik memiliki banyak kader yang berjuang untuk kepentingan bangsa, namun tidak menutup kemungkinan terdapat oknum yang justru mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok.
Baca Juga: Presiden Prabowo Larang BUMN Industri Pertahanan Dijual ke Asing
Sesaat setelah melontarkan kalimat tersebut, Prabowo sempat bercanda dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengenai penggunaan istilah "bajingan".
Ia menjelaskan kata tersebut merupakan ekspresi yang lazim dalam budaya Betawi dan bukan dimaksudkan sebagai ucapan kasar.
"Presiden boleh ngomong bajingan? Aku enggak tanya kalian, aku tanya Menteri Pendidikan ini, boleh enggak? Ini kan tidak termasuk kasar. Memang saya lahir di Betawi, jadi maaf kalau saya semangat kata-kata Betawi keluar. Sorry ye," kata Kepala Negara yang disambut tawa peserta.
Di balik candaan tersebut, Presiden menyampaikan pesan serius mengenai pentingnya membangun kembali karakter bangsa yang menjunjung tinggi persaudaraan, gotong royong, serta semangat saling menghormati.
Prabowo mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam budaya saling menghina, menyebarkan kebencian, iri hati, maupun saling mencurigai yang dinilai hanya akan menghambat kemajuan bangsa.
Baca Juga: Polri Bongkar Mega Korupsi, Menko Polkam Janji Koruptor Diburu Tanpa Pandang Bulu
"Marilah kita kembali ke sifat bangsa Indonesia yaitu saling memaafkan, saling mengerti, saling mengasihi, saling membantu, jangan ikut-ikut budaya caci maki, dengki, budaya curiga," tegasnya.
Kepala Negara menyebut tidak ada bangsa yang mampu mencapai kemajuan apabila energi nasional habis untuk konflik internal.
Maka dari itu, ia mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersatu menghadapi tantangan global sekaligus mengoptimalkan potensi besar yang dimiliki Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyinggung karakter masyarakat Indonesia yang dikenal sangat ramah terhadap tamu.
Namun, ia mengingatkan bahwa keramahan tersebut tidak boleh dimanfaatkan oleh pihak luar yang datang dengan dalih berdagang tetapi justru mengeksploitasi kekayaan nasional.
"Itu sifat kita bahwa kita suka dengan tamu. Hanya kadang-kadang ada tamu tidak tahu diri. Sudah tidak diundang, datang ke sini, katanya mau dagang, lama-lama ngerampok," ungkap Presiden.
Baca Juga: Tak Mau Kecolongan, Kemenko Polkam Susun Jurus Baru Cegah Karhutla
Ia menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia bahkan rela meminjam gula dan kopi kepada tetangga demi menjamu tamu yang datang.
Nilai luhur tersebut, menurutnya, merupakan jati diri bangsa yang harus tetap dipertahankan, namun harus diimbangi dengan kewaspadaan dalam menjaga kepentingan nasional.
Prabowo menegaskan Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alam dan memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia.
Pemerintah pun berkomitmen memastikan seluruh kekayaan bangsa dikelola sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.
"Saya bertekad memimpin pemerintahan, dibantu oleh kabinet saya. Saya bertekad untuk bekerja dengan keras, bekerja dengan gagasan pikiran yang besar, bukan yang kecil-kecil," pungkasnya.
Pidato Presiden Prabowo pada peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 menjadi penegasan bahwa persatuan nasional merupakan modal strategis dalam memperkuat ketahanan bangsa.
Di tengah dinamika politik dan tantangan global, ia mengajak seluruh masyarakat meninggalkan perpecahan, memperkuat solidaritas, serta bersama-sama menjaga kedaulatan dan memastikan kekayaan Indonesia dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































