Presiden Prabowo Dipuji PM Singapura, Kerja Sama TNI–SAF Makin Solid

Jakarta, IDM – Presiden RI Prabowo Subianto menerima kunjungan Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong di Istana, Jakarta, pada Senin (6/7).
Pertemuan bilateral tersebut melahirkan 26 kesepakatan kerja sama atau MoU di berbagai bidang.
Dalam pernyataannya, Lawrence Wong mengungkapkan bahwa dirinya bersama Presiden Prabowo telah menyepakati penguatan hubungan kelembagaan kedua negara, dengan sektor pertahanan menjadi salah satu pilar utama kemitraan strategis tersebut.
Baca Juga: Pemerintah Keluarkan Perpres 11/2025 Jakumhanneg, Penyebaran LGBTQ Masuk Ancaman Nonmiliter
Wong juga memberikan apresiasi khusus kepada Presiden Prabowo atas kontribusinya dalam membangun hubungan yang erat antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Singapore Armed Forces (SAF), bahkan sejak Prabowo masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Menurut Wong, hubungan profesional yang telah terjalin selama bertahun-tahun antara kedua angkatan bersenjata berhasil membangun tingkat kepercayaan yang tinggi, yang kini menjadi fondasi penting dalam memperluas kerja sama pertahanan bilateral.
"Hubungan yang baik antara SAF dan TNI menumbuhkan rasa saling percaya di antara kedua negara kita. Saya juga ingin secara khusus menyoroti kontribusi penting Presiden Prabowo dalam membina hubungan yang erat antara militer kedua negara ketika beliau menjabat sebagai Menteri Pertahanan," ucap Wong.
Wong juga mengungkapkan implementasi Perjanjian Kerja Sama Pertahanan antara Indonesia dan Singapura kini memasuki fase yang semakin konkret.
Baca Juga: Di Hadapan Calon Bintara TNI, Menko Polkam Tegaskan Pengabdian Prajurit tak Mengenal Akhir
Wong menjelaskan SAF dan TNI tengah menjajaki pengembangan bersama sejumlah fasilitas pelatihan strategis yang akan meningkatkan kualitas latihan gabungan kedua negara.
Fasilitas yang dimaksud meliputi kawasan latihan di Baturaja, Kalimantan Barat, serta Siabu Air Weapons Range yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai pusat latihan militer bersama sesuai kesepakatan kedua negara.
Pengembangan fasilitas tersebut akan memperluas ruang latihan, meningkatkan interoperabilitas prajurit, sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi tantangan keamanan kawasan yang semakin kompleks.
Wong mengatakan berbagai inisiatif tersebut akan membuka lebih banyak kesempatan bagi SAF dan TNI untuk berlatih bersama secara rutin, memperdalam hubungan antarprajurit, sekaligus memperkuat kemitraan pertahanan jangka panjang.
"Inisiatif-inisiatif ini akan memberikan lebih banyak peluang yang saling menguntungkan bagi kita untuk berlatih bersama dan memperdalam hubungan pertahanan yang telah terjalin lama," ujarnya.
Baca Juga: Perang Berpindah ke Dunia Digital, Menko Polkam: Disinformasi Bisa Hancurkan Masa Depan Bangsa!
Sementara itu, Presiden Prabowo menuturkan sektor pertahanan dan keamanan tetap menjadi salah satu pilar utama dalam hubungan strategis Indonesia dan Singapura.
Menurutnya, kedua negara berkomitmen untuk terus mengimplementasikan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan sebagai landasan memperkuat hubungan bilateral yang saling menguntungkan.
“Di bidang pertahanan dan keamanan, kita juga mengimplementasikan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan kita," ujar Presiden Prabowo.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































