Presiden Prabowo Bongkar 1.000 Tambang Ilegal, Perintahkan Panglima TNI dan Kapolri Usut Dugaan Deking Aparat

Jakarta, IDM – Presiden RI Prabowo Subianto melontarkan peringatan keras terkait maraknya aktivitas pertambangan ilegal di Indonesia.
Kepala Negara menegaskan tidak boleh ada pembiaran terhadap praktik tambang ilegal yang berlangsung dalam skala besar, terlebih jika diduga melibatkan atau mendapat perlindungan oknum aparat.
Hal itu diungkapkan Presiden Prabowo dalam pidatonya di Sidang Tahunan MPR RI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).
Prabowo mengungkapkan, pemerintah sebelumnya telah menutup sekitar 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung.
Baca Juga: 336 Ribu Warga Berebut Hadiri HUT RI ke-81, Istana Tambah 3.400 Kursi!
Menurutnya, jumlah tersebut menunjukkan persoalan pertambangan ilegal bukan perkara kecil dan harus diusut hingga ke akar persoalannya.
“Akhir tahun lalu, kita telah tutup 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung. 1.000 tambang ilegal. Saya telah minta Panglima TNI dan Kapolri untuk usut, masa 1.000 tambang pejabat TNI dan pejabat Polri enggak tahu?,” tegas Prabowo.
Presiden kemudian meminta Panglima TNI dan Kapolri tidak hanya melakukan penertiban di lapangan, tetapi juga mengusut kemungkinan adanya keterlibatan atau pembiaran oleh aparat yang seharusnya bertanggung jawab menjaga ketertiban dan menegakkan hukum.
“Kapolri dan Panglima TNI, usut. Untuk apa negara kasih pangkat, kasih jabatan mereka kalau enggak bisa tertibkan ini,” ungkap Kepala Negara.
Baca Juga: Karhutla Mengintai 6 Provinsi, Menko Polkam Djamari Kerahkan Operasi Darat hingga Flexible Tank
Ia mengemukakan jabatan dan kepangkatan di lingkungan aparat keamanan harus diikuti dengan tanggung jawab serta keberanian dalam menjalankan tugas.
Prabowo juga menekankan kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan memberikan perintah, tetapi juga keberanian menertibkan bawahan ketika ditemukan pelanggaran.
“Saya bicara atas nama rakyat Indonesia. Ini wakil-wakil rakyat semua di sini. Pemimpin yang baik, komandan yang baik adalah yang berani menertibkan anak buahnya sendiri,” ucapnya.
Proses penegakan disiplin, kata Prabowo, terkadang menghadapkan seorang pemimpin pada pilihan sulit, terutama ketika tindakan harus diberikan kepada personel yang sebelumnya telah mendapatkan kepercayaan dan penghargaan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Resmikan 895 Jembatan Merah Putih Presisi, Akses 2 Juta Warga Dibuka
“Kadang-kadang kita sedih. Anak buah yang kita sayang, yang baru saja kita beri bintang, naik pangkat harus kita tindak. Tapi demi rakyat, demi negara, demi bangsa harus kita lakukan,” ujarnya.
“Saya sadar disumpah di sini, saya tidak bisa mengizinkan perasaan saya menentukan kebijakan saya. Saya harus menentukan kebijakan saya atas dasar kepentingan rakyat Indonesia,” tegasnya.
Prabowo bahkan kembali memberikan instruksi langsung kepada Panglima TNI dan Kapolri agar dugaan keterlibatan aparat dalam aktivitas tambang ilegal benar-benar ditelusuri.
“Karena itu saya minta benar-benar, Panglima TNI dan Kapolri, usut. Tidak mungkin 1.000 tambang berjalan ilegal tanpa pejabat kepolisian dan pejabat polisi,” pungkasnya.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































