Menlu Iran: Perdamaian di Lebanon Prasyarat Kesepakatan dengan AS

Jakarta, IDM – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa berakhirnya perang di semua front, termasuk menghentikan serangan Israel di Lebanon, adalah "prasyarat" dalam kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Iran-AS akan Segera Teken Kesepakatan Damai di Swiss
"Karena adanya keterkaitan antara agresi rezim Zionis terhadap Lebanon Selatan dengan perang melawan Iran, kedua front ini menjadi saling terhubung dan bergantung satu sama lain. Sejak hari pertama, Iran menganggap mengakhiri perang di Lebanon sebagai prasyarat untuk mengakhiri perang dengan Iran," ujarnya melansir IRNA, Selasa (16/6).
"Ketika kami mencapai gencatan senjata, kami mendeklarasikan gencatan senjata di semua front, dengan penekanan pada Lebanon. Sekarang setelah kami mencapai akhir perang, perang di Lebanon juga akan berakhir," sambungnya.
Baca Juga: Iran Minta Serangan Israel ke Lebanon Dihentikan
Adapun, ia beserta delegasi Iran lainnya dan AS dijadwalkan untuk menandatangani kesepakatan damai di Swiss pada Jumat (19/6). Ia juga menyoroti peran konstruktif Pakistan dan Qatar dalam upaya mewujudkan perdamaian tersebut.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































