Mengapa Menyerang Ukraina Berbuah Malapetaka Bagi Rusia?

Jakarta, IDM - Rusia menginvasi negara tetangganya, Ukraina sejak 24 Februari 2022. Awalnya, rencana invasi ini dianggap akan sukses dengan mudah oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. Namun, sudah 10 bulan berlalu, Putin dihadapi kenyataan pahit ketika rencananya sama sekali diluar perhitungan. Perang ini menjadi salah satu konflik terburuk di wilayah Eropa selama beberapa dekade yang menewaskan ribuan warga sipil. Lantas, bagaimana mungkin salah satu militer paling kuat di dunia, justru gagal melawan negara yang kekuatan militernya relatif kecil?
Dilansir dari The New York Times, Sabtu (17/12), sebuah penelitian dilakukan untuk menemukan jawaban atas penyebab kekalahan Rusia menginvasi Ukraina. Penelitian ini mengumpulkan berbagai dokumen, rencana invasi serta melibatkan informasi dari puluhan tentara Rusia dan pejabat senior Rusia.
Pertama, kemenangan perang tidak hanya ditentukan oleh faktor kuantitas, tetapi juga kualitas. Dalam hal ini, Ukraina memiliki taktik perang yang lebih baik dengan struktur rantai komando yang efektif di lapangan. Namun, tidak demikian yang dilakukan Rusia, karena rantai komandonya yang kaku dan otoriter. Ketika memutuskan untuk berperang, Putin tidak mempertimbangkan atau berkonsultasi dengan para ahli dan pejabat senior Rusia. Bahkan, beberapa penasihat terdekat presiden itu tidak mengetahui apapun sampai tank-tank dan alutsista mulai bergerak. Penasihat tersebut mengatakan, "Putin memutuskan bahwa pemikirannya sendiri sudah cukup."
Kedua, terlepas dari asumsi Barat tentang kehebatan militer Rusia, nyatanya tidak sepenuhnya benar. Ratusan miliar dolar telah dikerahkan untuk memodernisasi angkatan bersenjata di bawah Pemerintahan Putin, tetapi korupsi tidak dapat dihindari para pejabat birokrasi militer. Rusia berhasil membentuk citra bahwa mereka menggunakan persenjataan modern, bukan teknologi usang pasca PD II. Kenyataan palsu yang diglorifikasi ini dibentuk untuk menutupi keadaan sebenarnya.
Ketiga, para tentara Rusia bergantung pada peralatan sederhana dan intelijen yang tidak berkoordinasi. Sebelum perang dimulai, perekrutan tentara dilakukan secara masif. Para tentara yang direkrut tersebut pun dilatih selama beberapa bulan, tanpa mengetahui motif asli dibalik perekrutan tersebut. Hingga saatnya akan berperang, mereka panik dan menggunakan ponsel untuk menelepon kerabat di rumah. Hal ini membuat mereka dapat dilacak oleh tentara Ukraina di awal perang. Meskipun Rusia juga melakukan aksi peretasan siber terhadap pemerintahan dan pasokan listrik di Ukraina, mereka tidak dapat melindungi pasukan mereka sendiri. Posisi pasukan Rusia dengan mudah diketahui dan menjadi sasaran empuk. Koordinasi yang buruk memperparah keadaan ketika para tentara Rusia yang terluka, tidak mendapat bantuan dan perlindungan.
Baca: Tanggapi Strategi Keamanan Jepang, Cina Kerahkan Kapal ke Pasifik
Keempat, Rusia tidak mampu mempertahankan seluruh wilayah Ukraina yang telah diambil alih. Ratusan kilometer wilayah ini hanya dipertahankan oleh tentara yang jumlahnya tidak banyak, ditambah lagi kondisi tentara tersebut yang kurang perlengkapan, kelelahan dan kekurangan makanan. Banyak dari mereka dilatih hanya beberapa bulan, tidak cukup membentuk kemampuan perang yang semestinya. Sementara itu, pasukan Ukraina mampu melakukan serangan balik dengan senjata canggih yang dipasok dari Barat. Rusia seperti tidak memiliki strategi untuk mempertahankan wilayah yang telah direbut dan hanya berpegangan pada perintah komando atasnya saja. Tentunya, hal itu berbuah malapetaka bagi pasukan Rusia. Kegigihan dan efektivitas pasukan Ukraina, serta minimnya strategi dukungan bagi pasukan Rusia turut menyebabkan demoralisasi bagi pasukan baru yang menolak untuk pergi berperang. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































