Komisi I DPR: Modernisasi Alutsista TNI Harus Sesuai Karakter Pertahanan Negara Kepulauan

Jakarta, IDM – Momentum HUT ke-81 TNI menjadi saat yang tepat untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat pembangunan postur pertahanan Indonesia.
Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) agar semakin sesuai dengan karakter geografis dan kebutuhan strategis Indonesia sebagai negara kepulauan.
Hal itu diungkapkan Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraeni. Menurutnya, perkembangan teknologi militer dan dinamika geopolitik kawasan menuntut TNI memiliki kemampuan pertahanan yang adaptif.
Maka, modernisasi alutsista menjadi bagian penting dalam menjaga relevansi kekuatan pertahanan nasional.
Baca Juga: Peserta Komcad ASN Meninggal, Komisi I DPR Minta Kemhan Evaluasi Total Sistem Latihan
“Memasuki usia ke-81, TNI tidak hanya dituntut semakin profesional, tetapi juga harus memiliki kekuatan pertahanan yang relevan dengan perkembangan ancaman. Karena itu, pembangunan dan modernisasi alutsista menjadi bagian penting dalam memperkuat postur pertahanan Indonesia,” ujar Amelia.
Ia menilai penguatan alutsista TNI perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari modernisasi sistem persenjataan, peningkatan teknologi, hingga penguatan kapasitas industri pertahanan nasional.
Amelia juga menekankan ukuran keberhasilan modernisasi tidak semata-mata terletak pada banyaknya platform baru yang dimiliki TNI.
Kebutuhan operasional dan karakter geografis Indonesia harus menjadi pertimbangan utama.
Baca Juga: Komcad ASN Berujung Duka, Komisi I DPR Soroti Kesiapan Medis dan Intensitas Latihan
Alutsista yang dibangun atau diperoleh, kata Amelia, harus mampu memperkuat daya tangkal sekaligus meningkatkan interoperabilitas antarmatra TNI.
“Yang lebih penting adalah bagaimana alutsista tersebut mampu meningkatkan daya tangkal, interoperabilitas antarmatra, kesiapan operasional, serta terintegrasi dengan kebutuhan pertahanan Indonesia sebagai negara kepulauan,” katanya.
Selain pengadaan, Amelia juga menyoroti pentingnya memastikan keberlanjutan kemampuan alutsista melalui sumber daya manusia, riset dan pengembangan teknologi, pemeliharaan, serta dukungan industri pertahanan dalam negeri.
Baca Juga: Komisi I DPR Dorong Strategi Khusus Hadapi Scam, Kerugian Masyarakat Tembus Rp9,1 Triliun
Dengan demikian, pembangunan kekuatan militer tidak hanya menghasilkan kepemilikan platform, tetapi juga menciptakan kemampuan nasional untuk mengoperasikan, merawat, mengembangkan, dan menopang sistem pertahanan dalam jangka panjang.
“Modernisasi bukan sekadar membeli sistem persenjataan baru, tetapi membangun ekosistem pertahanan nasional yang kuat dan berkelanjutan,” ujar Amelia.
Ia berharap penguatan pada akhirnya mampu meningkatkan kemampuan TNI dalam menjaga kedaulatan dan wilayah NKRI serta menghadirkan rasa aman bagi masyarakat.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































