POLKAM

Kemenko Polkam Dorong Sinkronisasi Tata Kelola Otonomi Khusus di 9 Provinsi

Kemenko Polkam
Kemenko Polkam bersama sejumlah kementerian menggelar rapat koordinasi nasional mengenai implementasi dan evaluasi tata kelola kebijakan otonomi khusus (otsus), di Peninsula Hotel, Jakarta, Rabu (19/11). (IDM/Yakub Pryatama)

Jakarta, IDM – Kementerian Koordinator Politik, dan Keamanan (Kemenko Polkam) bersama sejumlah kementerian terkait menggelar rapat koordinasi nasional mengenai implementasi dan evaluasi tata kelola kebijakan otonomi khusus (otsus), di Peninsula Hotel, Jakarta, Rabu (19/11).

Rakornas turut melibatkan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan pemerintah daerah dari wilayah-wilayah berstatus otonomi khusus.

Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri Kemenko Polkam, Mayjen TNI Heri Wiranto, menjelaskan forum ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan tata kelola penyelenggaraan otsus yang sudah berjalan lebih dari satu dekade.

Baca Juga: Diplomatic Tour 2025 jadi Pondasi Baru Diplomasi Indonesia di Pasifik

Menurutnya, pemerintah terus memberi perhatian khusus pada daerah-daerah dengan status desentralisasi asimetris sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi dan Undang-Undang Pemerintahan Daerah.

Adapun desentralisasi asimetris adalah model pemerintahan di mana beberapa daerah memiliki tingkat kewenangan, lembaga, dan keuangan yang berbeda dengan daerah lain karena alasan-alasan khusus.

Daerah otonomi khusus kini berjumlah sembilan provinsi, yang meliputi Aceh, DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua, Papua Barat, serta Daerah Otonomi Baru (DOB) di Papua, yaitu Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan, Papua Barat Daya.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri, Akmal Malik, menambahkan kebijakan desentralisasi asimetris umumnya diberikan berdasarkan lima pertimbangan, antara lain status ibu kota, pertumbuhan ekonomi, kebutuhan penyelesaian persoalan integrasi nasional, dan alasan pelestarian budaya.

Baca Juga: Menko Polkam Tekankan Penguatan Kawasan Perbatasan sebagai Prioritas Nasional

Indonesia, ujarnya, belum memiliki contoh penerapan otsus berbasis wilayah perbatasan.

“Hanya satu kita yang nggak punya, yaitu memberikan kebijakan desentralisasi asimetris karena perbatasan. Nah, empat daerah dengan karakteristik ini nantinya akan berkumpul bersama di sini, difasilitasi oleh Kemenko Polkam, beserta Provinsi DKI, untuk membicarakan bagaimana ke depan agar privilege atau asimetris yang diberikan oleh negara dan melalui undang-undang masing-masing itu bisa lebih optimal berjalan ke depan,” tuturnya.
Akmal menekankan pentingnya konsolidasi data antara pusat dan daerah agar pemanfaatan sumber daya dan anggaran otsus dapat terpantau secara jelas.

Ia berharap kebijakan istimewa yang diberikan negara kepada daerah dapat semakin optimal dan tepat sasaran. (ykb)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.