Iran Kembali Diserang AS, Anggota Komisi I Minta Pemerintah Indonesia Serukan Perdamaian di Forum Internasional

Jakarta, IDM – Imbas kembali terjadinya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, sejumlah respons datang dari berbagai pihak, salah satunya Oleh Soleh, Anggota Komisi I DPR RI.
Pemerintah Indonesia, menurut Oleh, perlu terus aktif di forum internasional dengan mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan komunitas internasional mengambil langkah konkret menghentikan eskalasi peperangan yang berpotensi mengancam stabilitas kawasan maupun dunia.
“Semua pihak harus mengupayakan terwujudnya kembali gencatan senjata dan menahan diri dari tindakan yang dapat memperburuk keadaan,” ujar Oleh Soleh, Rabu (10/6).
Baca Juga: Komisi I DPR Dukung Usulan Tambahan Anggaran Kemhan untuk Akselerasi Kekuatan TNI
Konflik bersenjata yang terus berlanjut, lanjutnya, hanya akan membawa dampak buruk bagi masyarakat internasional.
Peperangan yang terus terjadi, selain meningkatkan ketegangan geopolitik global, juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dunia, terutama terkait pasokan dan harga minyak yang sangat dipengaruhi oleh kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah.
“Jika konflik ini terus bereskalasi, suasana geopolitik dunia akan semakin memanas. Dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara yang terlibat, tetapi juga seluruh dunia, termasuk pada sektor ekonomi global dan harga energi,” ujar Oleh.
Menurutnya, Indonesia harus tetap konsisten menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif dengan terus menyuarakan perdamaian, penghentian perang, serta penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan dialog.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya perhatian dunia internasional terhadap persoalan Palestina yang hingga kini belum terselesaikan. Penghentian penjajahan Israel terhadap Palestina harus menjadi bagian dari agenda perdamaian global.
“Indonesia harus terus menyuarakan perdamaian, penghentian perang, dan yang tidak kalah penting adalah penghentian penjajahan Israel terhadap Palestina. Kemerdekaan Palestina adalah harga mati dan harus terus diperjuangkan melalui jalur diplomasi internasional,” pungkasnya.
Baca Juga: TNI AL Gagalkan Penyelundupan 554 Kg Merkuri, Perkuat Pertahanan dan Keamanan Laut Nasional
Diberitakan sebelumnya, konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas usai militer AS menyerang wilayah Iran pada Selasa (9/6) sore waktu setempat.
Serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas jatuhnya helikopter tempur Apache milik Angkatan Darat Amerika Serikat di dekat Selat Hormuz pada Senin (8/6).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut. Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan terjadi di Pulau Qeshm di Selat Hormuz dan sebuah proyektil juga menghantam kota pelabuhan Sirik.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































