Iran dan AS Lanjut Perundingan Nuklir di Jenewa

Jakarta, IDM – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi tiba di Jenewa, Swiss untuk melanjutkan perundingan nuklir dengan Amerika Serikat (AS) yang dimediasi oleh Oman. Tujuannya untuk mengurangi ketegangan dan mencegah konfrontasi militer di antara keduanya.
Baca Juga: Perundingan Damai Rusia dan Ukraina Babak Ketiga akan Berlangsung 17-18 Februari
Sebelumnya, Pemerintahan Donald Trump mendesak Iran untuk berhenti mengembangkan program nuklir atau akan ada konsekuensi. Iran menganggap ancaman itu tidak dapat diterima dan program nuklirnya merupakan 'garis merah' yang tidak dapat dinegosiasikan. Sementara, AS terus meningkatkan kehadiran militer di Timur Tengah dengan mengerahkan kapal induk untuk menekan Iran.
“Saya berada di Jenewa dengan ide-ide nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil dan merata. Yang tidak ada dalam pembahasan: penyerahan diri di atas ancaman," ujar Araghchi melalui platform X miliknya, Senin (16/2).
Araghchi pun mengungkapkan bahwa ia juga didampingi oleh para ahli nuklir Iran untuk “diskusi teknis mendalam” dengan Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































