Guncang Dominasi Barat, Iran Ajak Negara Teluk dan Irak Bentuk Aliansi Keamanan Baru

Jakarta, IDM – Duta Besar Iran untuk Arab Saudi, Alireza Enayati, menyerukan pembentukan blok keamanan mandiri yang melibatkan enam negara Teluk (GCC), Irak, dan Iran. Langkah berani ini bertujuan untuk mendepak pengaruh kekuatan asing, terutama Amerika Serikat (AS), yang selama lima dekade terakhir dianggap gagal menciptakan perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Melansir Reuters, Selasa (17/3), Enayati menegaskan hubungan Iran dengan negara-negara tetangganya memerlukan "tinjauan serius" menyusul pecahnya perang terbuka antara AS-Israel melawan Iran sejak akhir Februari lalu.
"Kita adalah tetangga dan tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Apa yang terjadi selama 50 tahun terakhir adalah hasil dari ketergantungan berlebihan pada kekuatan eksternal," tegas Enayati.
Baca Juga: Sekutu AS Tolak Kirim Armada Militer ke Selat Hormuz
Strategi 'Aliansi Delapan' vs Tekanan Washington
Teheran menawarkan konsep 'Aliansi Delapan' sebagai solusi untuk membangun kawasan yang makmur tanpa campur tangan militer Barat. Namun, tawaran ini datang di tengah situasi yang sangat panas. Washington saat ini sedang menekan negara-negara Arab di Teluk untuk bergabung dalam koalisi perang bersama AS dan Israel.
Presiden AS, Donald Trump, kabarnya terus melobi para pemimpin Arab untuk melegitimasi kampanye militernya terhadap Iran. Meski begitu, Enayati mengklaim Teheran terus menjalin kontak dengan Riyadh guna memastikan wilayah darat, laut, dan udara Arab Saudi tidak digunakan oleh AS untuk menyerang Iran.
Dilema Negara Teluk
Meski Iran menawarkan damai, suasana di ibu kota negara-negara Teluk justru diliputi kecemasan luar biasa. Sejak perang pecah pada 28 Februari, lebih dari 2.000 serangan rudal dan drone (pesawat nirawak) telah menghantam berbagai infrastruktur penting di enam negara Teluk, termasuk kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi.
"Iran telah melewati semua batas," ungkap Abdulaziz Sager, Ketua Gulf Research Center.
Menurutnya, meski awalnya negara-negara Teluk menentang perang, serangan Iran ke fasilitas sipil dan ekonomi mengubah persepsi mereka. Kini, muncul dorongan kuat agar militer AS tidak berhenti di tengah jalan dan benar-benar melumpuhkan kapasitas serangan Iran.
Baca Juga: Ogah Dukung Perang Iran, Mengapa Denmark Tetap Buka Peluang Kirim Militer ke Hormuz?
Ancaman Jalur Minyak Dunia
Kekhawatiran utama para pemimpin kawasan adalah keberanian Teheran dalam menyandera jalur energi global. Selat Hormuz, yang menjadi urat nadi pengiriman seperlima minyak dunia, kini berada dalam ancaman konstan. Serangan Iran bulan ini tidak hanya merusak fisik bangunan, tetapi juga meruntuhkan citra stabilitas yang selama ini dibangun untuk menarik turis dan investor asing.
Bagi para pemimpin Teluk, membiarkan Iran tetap memiliki kekuatan militer ofensif (kemampuan menyerang) sama saja dengan hidup dalam ancaman permanen. "Jika AS mundur sebelum tugas selesai, kami akan menghadapi Iran sendirian," tambah Sager.
Kini, kawasan Timur Tengah berada di persimpangan jalan, menyambut ajakan Iran untuk membentuk aliansi lokal yang mandiri, atau mendukung penuh serangan AS-Israel demi melemahkan kekuatan militer Teheran secara total. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































