Damai AS-Iran Momentum Perkuat Ketahanan Nasional di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

Jakarta, IDM – Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran bukan hanya membawa harapan bagi stabilitas Timur Tengah, tetapi juga memberikan ruang strategis bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Khususnya dalam memperkuat ketahanan nasional menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta menyambut positif tercapainya kesepakatan tersebut. Menurutnya, penghentian konflik bersenjata antara dua aktor penting di kawasan Timur Tengah menjadi langkah signifikan dalam menurunkan eskalasi keamanan yang selama ini berpotensi mengganggu stabilitas regional maupun global.
Baca Juga: Sikapi Eskalasi Timur Tengah, RI dan Qatar Serukan De-eskalasi Konflik
"Saya menyambut baik tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Apa pun bentuk dan detail final dari kesepakatan tersebut, penghentian konflik bersenjata merupakan langkah positif bagi stabilitas kawasan Timur Tengah dan keamanan global," ujar Sukamta.
Sukamta menilai meredanya ketegangan di Timur Tengah memiliki implikasi strategis yang luas.
Stabilitas di kawasan tersebut dapat mengurangi ancaman gangguan terhadap jalur perdagangan internasional, khususnya Selat Hormuz yang menjadi salah satu titik vital distribusi energi dunia.
Sukamta menyebut berkurangnya risiko konflik di kawasan itu berpotensi menjaga kestabilan pasokan energi global dan mengurangi tekanan terhadap harga minyak dunia.
Kondisi itu secara tidak langsung akan mendukung ketahanan ekonomi nasional sekaligus mengurangi dampak gejolak eksternal terhadap masyarakat.
"Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia. Meredanya ketegangan di kawasan tersebut berpotensi mengurangi tekanan terhadap harga minyak dunia, menjaga stabilitas pasokan energi, serta membantu menekan risiko inflasi dan kenaikan biaya logistik yang dapat berdampak pada masyarakat," jelasnya.
Baca Juga: RI-Qatar Gelar Konsultasi Politik Pertama, Sepakat Percepat MoU Anti-Terorisme
Namun, Sukamta mengingatkan kesepakatan damai tersebut belum tentu menjadi akhir dari seluruh persoalan geopolitik yang ada.
Pelbagai isu strategis di kawasan masih memerlukan komitmen jangka panjang serta pengawasan dari komunitas internasional agar perdamaian dapat berlangsung secara berkelanjutan.
"Dunia internasional perlu terus mendorong agar perdamaian yang tercapai tidak bersifat sementara, tetapi berkembang menjadi stabilitas yang berkelanjutan," tegasnya.
Menurut Sukamta, peristiwa ini kembali menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi instrumen utama dalam penyelesaian konflik internasional.
Di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dan perlombaan pengaruh antarnegara besar, jalur dialog dan negosiasi terbukti tetap relevan dalam menjaga stabilitas keamanan global.
"Indonesia sejak awal konsisten mendorong penyelesaian konflik melalui jalur damai. Sikap politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia terbukti tetap relevan di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global," katanya.
Baca Juga: Pemerintah Pacu Modernisasi Pertahanan untuk Perkuat Posisi Indonesia di Asia
Lebih jauh, Sukamta menekankan perkembangan tersebut harus menjadi pengingat bagi Indonesia untuk terus memperkuat fondasi ketahanan nasional. Ketergantungan terhadap dinamika eksternal menunjukkan pentingnya membangun kemandirian strategis di berbagai sektor, mulai dari energi hingga pertahanan.
Konflik yang terjadi di berbagai kawasan dunia dalam beberapa tahun terakhir, kata Sukamta, memperlihatkan ancaman terhadap stabilitas global dapat muncul secara cepat dan berdampak luas terhadap kepentingan nasional suatu negara.
"Konflik di Ukraina, Gaza, ketegangan di Laut China Selatan, hingga konfrontasi antara Iran dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa stabilitas global tidak lagi dapat dianggap sebagai sesuatu yang permanen,” pungkasnya.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































