Cina dan Rusia akan Pererat Hubungan Kerja Sama

Jakarta, IDM - Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi menegaskan posisi negaranya yang tidak berpihak dalam konflik di Ukraina. Meskipun begitu, ia mengatakan bahwa Cina akan mempererat hubungan dengan Rusia di tahun mendatang.
Dalam sebuah konferensi nasional tentang Hubungan Luar Negeri Cina, Minggu (25/12), Wang mengatakan bahwa Cina telah membuat strategi yang berkomitmen pada perdamaian dan objektivitas. Menurutnya, hubungan Cina dengan Rusia pun didasarkan atas prinsip non-konfrontasi dan netralitas terhadap invasi Rusia di Ukraina.
“Perihal krisis Ukraina, kami secara konsisten menjunjung tinggi prinsip-prinsip dasar objektivitas dan ketidakberpihakan, tanpa memihak salah satu pihak, atau menambahkan bahan bakar ke dalam api, apalagi mencari keuntungan egois dari situasi tersebut,” ujar Wang dilansir Fmprc.gov.cn.
Wang menegaskan bahwa berdasarkan prinsip tersebut, beberapa pertemuan presiden kedua negara selama satu tahun terakhir dilakukan untuk membangun kemitraan strategis menghadapi tantangan internasional. Cina dan Rusia akan terus berupaya untuk meningkatkan kerja sama yang saling menguntungkan. Kapal perang dari kedua negara pun telah menggelar latma militer angkatan laut di Laut China Timur pada minggu lalu.
“Hubungan Cina-Rusia yang didasarkan pada non-konfrontasi, dan non-penargetan pihak ketiga mana pun, tetap kokoh. Hubungan tersebut bebas dari campur tangan atau upaya apapun untuk menabur perselisihan antara kedua negara,” tegas Wang
Cina pun menolak tekanan Amerika Serikat (AS) untuk bergabung menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. Menurut Wang, AS telah melakukan intimidasi karena AS melihat Cina sebagai pesaing utama dan membentuk berbagai blokade maupun provokasi.
“AS terus melihat Cina sebagai pesaing utamanya dan terlibat dalam blokade serta provokasi terhadap Cina, menyebabkan hubungan Cina dan AS jatuh ke dalam kesulitan yang serius,” ujar Wang.
Baca: Korut Luncurkan Rudal Setelah AS-Korsel Gelar Latma Militer
AS telah mendesak negara-negara melalui berbagai forum internasional untuk menerapkan sanksi terhadap Rusia. Penolakan Cina telah menyebabkan renggangnya hubungan dengan negara barat. Menanggapi hal ini, Wang dan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken telah berbicara melalui telepon pada pekan lalu. Mereka membahas perlunya mengelola perbedaan secara efektif dan kembali menumbuhkan kerja sama positif antara kedua belah pihak. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































