AS Sebut Penghentian Konflik di Lebanon Tidak Termasuk dalam Kesepakatan Gencatan Senjata

Jakarta, IDM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa penghentian serangan di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.
Baca Juga: Israel Serang Lebanon, PBB: Dapat Merusak Gencatan Senjata dengan Iran
Setelah Israel menyerang Lebanon pada Rabu (8/4), yang menewaskan dan melukai lebih dari 1.400 orang di daerah padat penduduk, Trump mengatakan bahwa serangan Israel terhadap Hizbullah adalah "pertempuran kecil yang terpisah".
“Karena Hizbullah, mereka tidak termasuk dalam kesepakatan itu. Itu juga akan diurus. Tidak apa-apa," katanya melansir Al Jazeera, Kamis (9/4).
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt turut menegaskan pernyataan Trump tersebut. “Lebanon bukan bagian dari gencatan senjata. Dan itu telah disampaikan kepada semua pihak yang terlibat dalam gencatan senjata,” katanya melansir siaran YouTube The White House.
Baca Juga: Korut Luncurkan Rudal Balistik ke Laut Timur
Leavitt pun menepis dugaan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mungkin berupaya untuk melemahkan gencatan senjata dengan menyerang Lebanon. Menurutnya, Israel tetap menjadi sekutu utama bagi AS. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































