AS dan Swedia Sepakati Perjanjian Kerja Sama Pertahanan

Jakarta, IDM - Amerika Serikat (AS) dan Swedia menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan, yang akan memungkinkan AS mengakses pangkalan militer di negara tersebut.
Baca Juga: AS Sebut Tidak Ada yang Selamat dalam Kecelakaan Pesawat Militer V-22 Osprey
"Perjanjian ini akan meningkatkan kerja sama pertahanan dengan menetapkan kondisi bagi pasukan AS untuk beroperasi di Swedia, termasuk status hukum personel militer AS, akses ke wilayah penempatan dan penempatan perlengkapan militer," kata Kementerian Pertahanan (Kemhan) AS melansir laman resminya Defense.gov, Rabu (6/12).
Kesepakatan itu ditandatangani oleh Menhan AS Lloyd J. Austin III dan Menhan Swedia Pal Jonson di Washington pada beberapa waktu lalu. Selain mempererat kerja sama bilateral pertahanan, juga diharapkan dapat meningkatkan keamanan regional, khususnya wilayah Euro-Atlantik.
Baca Juga: Cina Kirim Pesawat Tempur untuk Peringati Pesawat AS di Selat Taiwan
Austin pun disebut kembali menegaskan komitmen dukungan terhadap proposal keanggotaan Swedia di NATO. Menurutnya, Swedia merupakan mitra pertahanan yang memperjuangkan nilai-nilai NATO dan akan memperkuat aliansi tersebut. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































