INTERNASIONAL

Target Tuntas Tahun Ini! Perundingan Kode Etik LCS Masuki Fase Krusial

Peta
Peta perbandingan klaim sepihak 'Nine-Dash Line' (garis merah) milik Cina dengan batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia (garis biru) di Laut Natuna Utara. (Foto: Dok. Wikimedia Commons)

Jakarta, IDM – Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, memantik harapan baru di tengah sengketa wilayah Laut Cina Selatan (LCS). Ia menegaskan, perundingan aturan main atau kode etik (Code of Conduct/COC) kini memasuki fase paling menentukan dan mematok target penyelesaian kesepakatan tersebut secara tuntas pada tahun ini.

Wang Yi menggambarkan proses diplomasi telah mencapai tahapan "crunch time" atau masa genting yang memerlukan keputusan strategis dari seluruh pihak. Cina bersama seluruh negara Asean kini giat menyelaraskan pandangan sekaligus memadukan tekad untuk membungkus naskah hukum tersebut demi menjamin stabilitas kawasan secara permanen.

"Seluruh pihak terkait menaruh harapan besar untuk menuntaskan perundingan pada tahun ini juga. Cina memiliki kepercayaan diri serta memegang resolusi kuat untuk menyingkirkan gangguan luar sekaligus menjembatani segala silang pendapat," ujar Wang Yi dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Cina, dikutip di Jakarta, Minggu (8/3).

Baca Juga: Serang Iran, AS Dibayangi Penyusutan Stok Senjata dan Ketidakpastian Pergantian Rezim Khamenei

Memahami Apa Itu COC?

COC merupakan sebuah perangkat aturan yang nantinya menata perilaku setiap negara agar tidak memicu gesekan militer di perairan yang saling klaim. Wang Yi menjuluki kesepakatan ini sebagai "golden rules" atau pedoman emas yang sanggup merajut rasa saling percaya sekaligus memacu kerja sama antarnegara tetangga. Aturan ini memiliki kedudukan yang jauh lebih saklek dan mengikat daripada Deklarasi Perilaku Para Pihak (DOC) tahun 2002 yang sifatnya hanya sebatas pernyataan niat damai tanpa sanksi hukum.

Perjalanan Panjang dari 2002 hingga 2026

Upaya merajut aturan di kawasan ini sebenarnya menempuh jalan berliku selama lebih dari dua dekade. Perjalanan panjang ini bermula saat Cina dan Asean menelurkan dokumen DOC pada 2002 di Kamboja sebagai janji awal untuk tidak saling serang. Setelah merangkak pelan selama satu dekade, pembahasan draf awal COC pun mulai bergulir secara resmi pada 2013.

Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi
Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, saat konferensi pers di Beijing, Minggu (8/3). (Foto: Dok. Kementerian Luar Negeri Cina)

Dinamika diplomasi kemudian memanas saat para pemimpin kawasan menyepakati kerangka kerja COC di tahun 2017, yang berlanjut pada pembacaan pertama draf negosiasi tunggal sepanjang 2018 hingga 2021. Meski pandemi Covid-19 sempat menghambat pertemuan antarmuka, tim teknis dari setiap negara terus menggenjot pembahasan pasal-pasal sensitif sepanjang 2023 hingga 2025, sampai akhirnya Wang Yi mengonfirmasi proses ini mencapai fase krusial pada awal 2026.

Baca Juga: Trump Ogah Negosiasi, Ingin Militer dan Pemimpin Iran Habis Tak Bersisa!

Sentil Filipina, Gandeng Indonesia

Dalam sesi yang sama, Wang Yi memuji ritme kerja sama maritim yang kian solid antara Cina dengan beberapa negara Asean. Ia membeberkan, Cina tengah melangsungkan diskusi mendalam dengan Indonesia mengenai pengembangan wilayah laut bersama, serta memperkuat sinergi perikanan dengan Vietnam dan memacu dialog kelautan dengan Malaysia. Bahkan, ia memamerkan capaian coast guard Cina yang baru-baru ini menyelamatkan belasan awak kapal Filipina terdampar di tengah laut.

Namun, Wang Yi mengirimkan pesan tegas kepada Filipina yang tahun ini mengemban mandat sebagai Ketua Asean. Ia mendesak Manila untuk menyadari tanggung jawab kepemimpinannya sekaligus menjauhi tarikan kepentingan pribadi yang bisa mengganggu perdamaian regional. Wang Yi mengingatkan, upaya memancing keributan di kawasan tidak akan pernah memenangkan hati siapa pun di dunia internasional.

Pemerintah Cina meyakini, narasi utama di Laut Cina Selatan harus berlandaskan persahabatan dan kerja sama, bukan ajang provokasi maupun medan adu kekuatan. Cina menjamin jalur pelayaran di kawasan tersebut tetap menjadi yang paling sibuk, aman, sekaligus bebas di dunia selama seluruh pihak mampu membuang ego dan fokus pada tujuan besar tahun ini. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Prajurit Denjaka

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut

Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.