INTERNASIONAL

Tak Hanya Perdamaian, Indonesia Desak Pemulihan Kehidupan Masyarakat Gaza

Menlu Sugiono
Menlu Sugiono dalam High Level Roundtable on Gaza Early Recovery “From Sharm El-Sheikh to Phase II – Consolidating Peace and Early Recovery” di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 (23/09). (Foto: Dok. Kemlu RI)

Jakarta, IDM – Indonesia menegaskan bahwa upaya mewujudkan perdamaian secara permanen di Gaza harus diiringi dengan pemulihan kehidupan masyarakat. Mereka harus mampu membangun kembali kehidupan yang layak dan bermartabat.

Hal itu diungkapkan oleh Menlu Sugiono dalam High Level Roundtable on Gaza Early Recovery “From Sharm El-Sheikh to Phase II - Consolidating Peace and Early Recovery” di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81, New York, Amerika Serikat (AS), pada Rabu (23/9).

Ia menegaskan, prioritas utama yang harus dilakukan adalah menghentikan kekerasan, gencatan senjata, dan akses bantuan kemanusiaan. Namun, pemulihan layanan dasar, infrastruktur, dan penghidupan yang layak bagi masyarakat Gaza juga harus segera dimulai.

Baca Juga: Dewan Perdamaian Gaza Ungkap Rencana Pemulihan Senilai US$2,45 Miliar

"Bagi rakyat Gaza, perdamaian harus berarti lebih dari sekadar tidak adanya kekerasan. Mereka harus dapat membangun kembali kehidupan yang layak dan bermartabat,” ujarnya melansir keterangan tertulis Kemlu RI, Jumat (25/9).

Selain itu, bantuan kemanusiaan yang diberikan semestinya tidak hanya memenuhi kebutuhan mendesak tetapi turut membantu masyarakat Gaza membangun kembali kehidupan mereka untuk jangka panjang.

“Pemulihan Gaza membutuhkan pasokan dan sumber daya yang memadai untuk mengembalikan layanan dasar dan membangun kembali infrastruktur,” ujarnya.

“National Committee for the Administration of Gaza juga dapat memainkan peran penting dalam proses tersebut,” sambungnya.

Baca Juga: Indonesia Tandatangani Konvensi Siber Perdana PBB

National Committee for the Administration of Gaza/NCAG merupakan komite yang dibentuk untuk menjadi pemerintahan sementara guna mengelola wilayah Gaza. Misi NGAC sejalan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803, yakni membangun pemerintahan di bawah “satu otoritas, satu hukum, dan satu aparat keamanan,” melalui administrasi yang berbasis pada efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas.

Lebih lanjut, Sugiono menekankan bahwa seluruh proses rekonstruksi Gaza harus dipimpin dan dimiliki oleh rakyat Palestina (Palestinian-led and Palestinian-owned). Dengan demikian, dukungan internasional perlu diarahkan untuk memperkuat kapasitas dan kepemilikan Palestina atas masa depan Gaza.

Adapun, pertemuan High-Level Roundtable on Gaza Early Recovery menjadi bagian dari upaya internasional untuk memastikan perdamaian di Gaza dapat diikuti dengan pemulihan yang nyata bagi masyarakat. Pertemuan ini difokuskan untuk membahas langkah menuju fase berikutnya. (bp)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.