PARLEMEN

Soal Kapal AS di Selat Malaka, DPR: Tak Perlu Khawatir

Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto.
Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto. (Foto: Dok. DPR RI)

Jakarta, IDM – Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto menanggapi ihwal keberadaan kapal Amerika Serikat di Selat Malaka.

Ia menilai kehadiran kapal asing di kawasan itu tidak serta merta menjadi ancaman bagi Indonesia, selama tetap mematuhi ketentuan hukum internasional dan meminta izin saat melintasi wilayah kedaulatan nasional.

Ia menjelaskan Indonesia memiliki landasan hukum kuat dalam menjaga wilayah perairannya, mulai dari Deklarasi Djuanda 1957 hingga pengakuan dalam UNCLOS 1982, yang menetapkan batas kedaulatan laut Indonesia.

Baca Juga: Komisi I DPR Desak Regulasi Perlindungan Pelajar Indonesia di Negara Konflik

Dengan dasar tersebut, publik diminta tidak panik dalam merespons dinamika kehadiran kapal asing.

“Kalau kekhawatiran dia melakukan manuver atau pendudukan terhadap kita, tentu itu kekhawatiran yang berlebihan,” tegasnya.

Utut juga mengingatkan bahwa ketegangan global antara negara-negara besar tetap perlu dicermati.

Menurutnya, rivalitas antara kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok saat ini lebih banyak berlangsung dalam bentuk “war of mind” atau perang pengaruh, bukan konfrontasi langsung.

Dalam situasi itu, Indonesia harus tetap memegang prinsip bebas aktif dan tidak terjebak dalam pusaran konflik.

Baca Juga: Komisi I DPR Dorong Indonesia Ambil Peran Aktif Perpanjang Gencatan Senjata Iran-AS

Ia menekankan Indonesia tidak berada dalam posisi bermusuhan dengan negara mana pun, sehingga langkah terbaik adalah menjaga stabilitas nasional sambil memperkuat kapasitas pertahanan secara mandiri.

“Kita tidak dalam posisi masuk ke pertempuran itu, tapi kita bisa menarik pelajaran moral dari situasi global ini,” katanya.

Menurutnya, pelajaran terbesar dari dinamika geopolitik dunia kini ialah pentingnya membangun kemandirian pertahanan nasional.

Indonesia, kata Utut, tidak bisa selamanya bergantung pada pembelian alat utama sistem persenjataan dari luar negeri, melainkan harus memperkuat riset dan teknologi pertahanan dalam negeri.

Baca Juga: Di Forum IPU Istanbul, DPR Desak Dunia Bersatu Hentikan Agresi Israel

Ia mencontohkan negara-negara yang mampu membangun sistem persenjataan secara mandiri karena memiliki dukungan ilmuwan dan inovasi teknologi nasional yang kuat.

Utut menegaskan hal serupa harus menjadi arah pembangunan pertahanan Indonesia di masa depan.

“Kalau mau TNI kuat, kita harus punya ilmuwan-ilmuwan yang bisa memperkuat persenjataan kita. Selama itu belum terjadi, konsep kita adalah damai,” pungkas Utut. (Ykb)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.