Serang Iran, AS Dibayangi Penyusutan Stok Senjata dan Ketidakpastian Pergantian Rezim Khamenei

Jakarta, IDM – Amerika Serikat dibayangi penyusutan stok senjata dan ketidakpastian pergantian rezim Iran setelah Negeri Paman Sam memutuskan menyerang Iran pada 28 Februari lalu. Peringatan itu setidaknya yang disampaikan intelijen dan senator AS.
Washington Post melaporkan pada Sabtu (7/3), berdasarkan peninjauan intelijen, konflik di Iran tidak mungkin menggulingkan pendirian negara Iran, meskipun Presiden AS Donald Trump tetap bersikukuh untuk melanjutkan serangan.
Sebuah laporan rahasia dari National Intelligence Council menunjukkan bahwa kampanye pengeboman mungkin tidak menggulingkan pendirian militer dan ulama Iran. Laporan tersebut selesai pada pertengahan Februari lalu. Laporan tersebut memperingatkan, pemerintah Iran akan tetap mengikuti protokol dalam mencari penerus pemimpin tertinggi negara itu.
Baca Juga: Trump Ogah Negosiasi, Ingin Militer dan Pemimpin Iran Habis Tak Bersisa!
Selama bertahun-tahun, AS mendorong perubahan rezim Ayatollah Ali Khamenei sembari memperingatkan agar Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Setelah Khamenei dibunuh dalam operasi AS dan Israel minggu lalu, pemerintah Iran dengan cepat menunjuk dewan kepemimpinan sementara, yang terdiri dari presiden Iran dan pejabat tinggi lainnya. Dewan bertanggung jawab untuk memilih pemimpin tertinggi negara berikutnya.
Pejabat intelijen AS mengatakan, tidak mungkin oposisi Iran akan mengambil kendali negara tersebut.
Baca Juga: Ngeri! AS Kerahkan Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah untuk Gempur Iran
Pada saat yang sama, mengutip laporan The Guardian, Partai Demokrat memperingatkan bahwa serangan udara ke Iran akan mengurangi persediaan senjata tertentu AS. Poin itu menjadi perhatian yang muncul selama pengarahan tertutup awal antara pejabat administrasi Trump dan anggota Kongres AS pada pekan ini.

Dengan meningkatnya kekhawatiran soal persediaan senjata AS, beberapa senator Demokrat was-was AS tidak bisa melindungi secara efektif negara lain yang membutuhkan perlindungan, seperti Ukraina yang sedang berperang dengan Rusia.
Dalam sebuah wawancara dengan Majalah Time, senator Richard Blumenthal menyatakan sangat prihatin kepada Ukraina. Richard menambahkan bahwa sumber daya dan persediaan militer AS terbatas.
Baca Juga: Iran Putuskan untuk Berhenti Serang Negara Tetangga
Di sisi lain, produsen senjata AS telah setuju untuk meningkatkan produksi mereka. Pada Jumat (6/3), Lockheed Martin mengatakan bahwa mereka setuju untuk memproduksi amunisi kritis empat kali lipat.
Sementara itu, pakar lain berbicara kepada AP, menyampaikan kekhawatirannya bukan tentang konflik di Iran, melainkan potensi eskalasi militer pada masa depan.
“Saya tidak terlalu khawatir tentang AS benar-benar kehabisan selama konflik ini,” kata Ryan Brobst, sarjana yang berfokus pada strategi pertahanan AS di Foundation for Defense of Democracies, dalam sebuah wawancara dengan AP. "Ini tentang menahan Cina dan Rusia sehari setelah konflik ini berakhir." (nma)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































