Rusia Sebut AS, Inggris dan Ukraina Sebagai Dalang Penembakan Masal

Jakarta, IDM - Direktur badan Intelijen Rusia FSB, Alexander Bortnikov, mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS), Inggris dan Ukraina merupakan dalang dari serangan gedung konser Rusia yang menewaskan sedikitnya 139 orang pada hari beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Rusia dan Korut Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Atasi Pengintai
Pernyataan itu Bortnikov ungkapan setelah Presiden Vladimir Putin melayangkan tuduhan yang sama bahwa meskipun kelompok teroris ISIS-K mengaku bertanggung jawab atas penembakan masal tersebut, tetapi badan intelijen Ukraina yang merencanakan serangannya dan dibantu oleh sekutu Barat.
“Kami yakin kelompok Islam radikal mempersiapkan aksi tersebut, sementara dinas khusus Barat telah membantu dan dinas khusus Ukraina terlibat langsung di dalamnya,” kata Bortnikov melansir TASS, Jumat (29/3).
Baca Juga: Putin Tegaskan akan Tembak Jatuh F-16 di Ukraina
Ia pun mengatakan bahwa keempat pria bersenjata yang menjadi tersangka itu berusaha melarikan diri ke Ukraina ketika mereka ditangkap. Berdasarkan bukti itulah ia yakin adanya keterlibatan Ukraina. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































