Putin Bertemu Trump di Alaska, Tak Ada Kesepakatan Konkrit Terkait Ukraina

Jakarta, IDM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa ia dan Presiden Rusia Vladimir Putin, telah mencapai "kemajuan besar" setelah KTT di Alaska.
Keduanya bertemu di Elmendorf-Richardson Joint Base pada Jumat (15/8) siang waktu setempat. Pertemuan yang berlangsung selama sekitar 2,5 jam ini merupakan yang pertama kalinya Putin mengunjungi AS dalam satu dekade terakhir.
Walaupun Trump menyebut pertemuannya sangat produktif, ia mengakui bahwa mereka tidak mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Baca Juga: Perwira Psikologi TNI Berikan Pelatihan Self-Care bagi Personel Sipil dan Militer UNIFIL
"Ada banyak sekali poin yang kami sepakati, kebanyakan, menurut saya, beberapa poin penting yang belum sepenuhnya kami capai, tetapi kami telah membuat beberapa kemajuan. Jadi, tidak ada kesepakatan sampai ada kesepakatan," kata Trump saat konferensi pers, melansir YouTube White House, Sabtu (17/8).
Lebih lanjut, ia menyatakan akan segera menghubungi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan para pemimpin Eropa untuk memberi tahu mereka tentang perundingan tersebut. Ia juga mengungkapkan masih terdapat hambatan yang signifikan tetapi tidak dijelaskan apa hambatan tersebut.
"Hanya ada sedikit yang tersisa. Beberapa tidak terlalu signifikan. Satu mungkin yang paling signifikan, tetapi kami memiliki peluang yang sangat bagus untuk mencapainya. Kami tidak mencapainya, tetapi kami memiliki peluang yang sangat bagus untuk mencapainya," tambahnya.
Baca Juga: Zelensky: 84 Tawanan Perang Berhasil Kembali Pulang ke Ukraina
Sementara, Putin menyatakan berharap "kesepahaman" yang dicapai dengan Trump akan membuka "jalan menuju perdamaian di Ukraina". Ia pun menyebut perundingan itu sebagai bentuk "persahabatan."
"Kami berharap Kyiv dan ibu kota Eropa akan memandang hal ini secara konstruktif dan tidak akan mengganggu rencana," ujarnya dalam konferensi pers singkat dengan Trump.
"Saya berharap bahwa kesepahaman hari ini akan menjadi titik awal, tidak hanya untuk penyelesaian masalah Ukraina, tetapi juga akan membantu kita memulihkan hubungan bisnis dan pragmatis antara Rusia dan AS," imbuh Putin.
Baca Juga: Diplomasi Pertahanan, Satgas Kizi TNI Konga Minusca XXXVII-K Turut Semarakkan HUT Afrika Tengah
Putin juga menyuarakan dukungannya untuk meningkatkan hubungan dengan AS, dengan mengatakan, "Jelas bahwa kerja sama investasi dan bisnis AS dan Rusia memiliki potensi yang luar biasa."
"Rusia dan AS dapat saling menawarkan begitu banyak hal dalam perdagangan, digital, teknologi tinggi, dan eksplorasi ruang angkasa; kami melihat bahwa kerja sama Arktik juga sangat memungkinkan," ujarnya.
Konferensi pers itu berlangsung selama sekitar 15 menit namun kedua pemimpin tidak menjawab pertanyaan dari para awak media. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































