INTERNASIONAL

Presiden Prabowo: Indonesia Siap Keluar dari Board of Peace jika Tak Bermanfaat bagi Palestina

Presiden RI Prabowo Subiant
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace(BoP). (Foto: Dok. Setpres/BPMI)

Jakarta, IDM – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) tetap diarahkan untuk memperjuangkan perdamaian jangka panjang di Palestina.

Namun, pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk menarik diri dari forum tersebut apabila keikutsertaannya dinilai tidak lagi memberikan manfaat nyata bagi perjuangan rakyat Palestina maupun kepentingan nasional Indonesia.

Hal tersebut disampaikan ulama sekaligus Sekretaris Majelis Syuro DPP Front Persaudaraan Islam (FPI) Habib Hanif Alatas usai mengikuti pertemuan silaturahmi Presiden dengan para kiai dan tokoh organisasi kemasyarakatan Islam di Istana Merdeka.

Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo memaparkan perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, termasuk dinamika diplomasi internasional terkait konflik di Palestina dan Gaza.

Baca Juga: Akibat Konflik AS-Iran, Perundingan Damai Ukraina-Rusia ditunda

Menurut Hanif, Presiden menegaskan bahwa Indonesia masih berada dalam Board of Peace sebagai bagian dari upaya diplomasi untuk mendorong terciptanya perdamaian.

Namun, ia menekankan posisi Indonesia tetap berpijak pada prinsip kebermanfaatan bagi perjuangan Palestina.

“Presiden tadi menyampaikan kalau melihat tidak ada kemaslahatan lagi untuk Palestina, tidak ada peluang buat memperjuangkan kemaslahatan Palestina dan tidak sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia, Presiden akan menarik diri,” ujar Hanif kepada wartawan.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menjelaskan bahwa Presiden juga menanggapi berbagai desakan dari sejumlah pihak agar Indonesia keluar dari Board of Peace.

Meski demikian, menurut Nusron, Presiden menilai forum tersebut saat ini masih menjadi mekanisme diplomasi yang paling realistis untuk membahas dan merundingkan upaya perdamaian di Gaza.

Baca Juga: Presiden Korut Pantau Uji Coba Rudal Jelajah dari Kapal Perusak Baru

“Pak Presiden juga mempertanyakan, kalau seandainya ada yang mendesak kita keluar dari BoP, lalu kita berunding untuk menciptakan perdamaian di forum apa?” kata Nusron.

Ia menilai hingga saat ini Board of Peace masih menjadi satu-satunya forum yang tersedia untuk mempertemukan berbagai pihak dalam pembahasan perdamaian Palestina.

Karena itu, Nusron mengajak masyarakat memberi kesempatan bagi upaya diplomasi yang sedang dilakukan pemerintah agar dapat berjalan dan menunjukkan hasil.

“Bangsa Indonesia sudah menerima BoP ini sebagai sarana ikhtiar menuju perdamaian. Setidaknya ikhtiar ini dicoba dulu. Jangan sampai usaha belum dilakukan, kita sudah diminta keluar,” pungkasnya. (Ykb)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.