INTERNASIONAL

Presiden Iran Sebut Aset Beku $6 miliar akan Cair

Presiden Iran Masoud Pezeshkian
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Dok. Iran International)

Jakarta, IDM – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa aset Iran senilai $6 miliar yang dibekukan dan saat ini berada di Qatar akan dikembalikan ke negaranya sesuai dengan kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Iran dan Oman Gelar Pertemuan Perdana Komite Selat Hormuz

Melansir Al Jazeera, Senin (29/6), hal itu ia ungkapkan saat kunjungan ke Kota Qom. Ia menyatakan, sanksi terhadap sektor minyak dan petrokimia pun telah dicabut berdasarkan kesepakatan, yang ia sebut sebagai "kemenangan besar" bagi rakyat Iran.

"Sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, $6 miliar dari $12 miliar aset beku kami di Qatar akan dilepaskan dan dikembalikan ke negara ini. Upaya kami akan terus berlanjut untuk memulihkan sisa aset beku Iran," katanya.

Baca Juga: Sepakat Tahan Serangan, AS-Iran akan Bertemu di Qatar

Lebih lanjut, menurutnya Iran tidak berupaya untuk memperoleh senjata nuklir. Ia menekankan pada komunitas internasional bahwa aktivitas program nuklir Teheran "proporsional dengan kebutuhan negara", yang bersifat damai.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.