Pekan Ini, AS dan Iran Kembali ke Meja Perundingan

Jakarta, IDM – Delegasi dari Amerika Serikat (AS) dan Iran kemungkinan kembali berunding di Islamabad, Pakistan pada pekan ini, usai gagal mencapai kesepakatan damai secara permanen pada Minggu (12/4).
Melansir Reuters, Selasa (14/4), empat sumber yang mengetahui hal itu menyatakan bahwa terdapat kemungkinan tim negosiasi AS dan Iran kembali ke meja perundingan di Islamabad, Pakistan pada pekan ini. Namun, tidak diungkapkan secara merinci tuntutan apa yang akan dibahas secara tatap muka tersebut.
Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa perundingan damai dengan Iran di Islamabad gagal karena Iran menolak syarat-syarat yang diberikan oleh negaranya, khususnya komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Baca Juga: Mendukung AS-Israel, Iran Tuntut Ganti Rugi dari Lima Negara Teluk
Sementara, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf selaku pemimpin delegasi di Islamabad, menyebut bahwa pihaknya telah mengusulkan inisiatif "berwawasan ke depan". Namun, AS gagal mendapat kepercayaan Iran. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































