Panas! AS 'Semprot' Rusia-Cina di PBB: Kalian Lindungi Iran!

Jakarta, IDM – Suasana sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendadak tegang. Amerika Serikat (AS) melontarkan kritik pedas kepada Rusia dan Cina. Washington menuduh kedua negara tersebut sengaja pasang badan untuk melindungi Iran dari sanksi internasional.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan kekecewaannya dalam pertemuan Komite 1737 di New York. Mengutip keterangan resmi US Embassy and Consulates in China, Waltz menyebut Rusia dan Cina terus menjegal kerja penting komite tersebut. Padahal, komite ini punya tugas vital mengawasi sanksi terhadap program nuklir dan senjata Iran.
"Rekan-rekan, hari ini seharusnya menjadi pertemuan rutin. Namun sayangnya, rekan kami dari Rusia dan Cina terus memblokir kerja penting komite ini sebagai bentuk kolaborasi mereka dengan rezim Iran," ujar Waltz dalam pidatonya, dikutip Jumat (13/3).
Baca Juga: Indonesia Kembali Evakuasi 34 WNI di Iran
Rusia-Cina dituding 'Main Mata' dengan Iran
Waltz membeberkan bukti, pada 6 Maret lalu, delegasi Rusia dan Cina secara resmi menolak laporan 90 harian yang menjadi mandat PBB. Menurutnya, aksi tutup mata ini bukan tanpa alasan. AS menduga ada kepentingan bisnis militer di baliknya.
Waltz menuding Moskow dan Beijing ingin menjaga kerja sama pertahanan dengan Teheran yang sebenarnya sudah dilarang. Ia mencontohkan aksi Rusia yang membeli drone (pesawat nirawak) dan rudal balistik dari Iran untuk keperluan perang. Sebaliknya, Rusia juga memasok helikopter serbu ke Iran awal tahun ini.
"Faktanya, Rusia dan Cina tidak ingin komite ini berfungsi. Bukan karena alasan hukum, tapi karena mereka ingin melindungi mitra mereka, Iran," tegas Waltz.
Baca Juga: Pidato Perdana, Pemimpin Tertinggi Baru Iran Beri Peringatan Tegas
Rusia-Cina Balik Serang: AS Cuma Tebar Teror!
Di sisi lain, Rusia dan Cina tidak tinggal diam menerima serangan verbal tersebut. Melansir laporan Reuters, Dubes Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, balik menyerang dengan menyebut AS hanya menebar ketakutan berlebih soal nuklir Iran. Ia menilai Washington sengaja menciptakan suasana mencekam demi mencari pembenaran untuk melancarkan serangan militer terhadap Teheran.
Senada dengan Rusia, perwakilan Cina, Fu Cong, menjuluki Washington sebagai biang kerok krisis ini. Cina menilai AS justru menggunakan kekuatan militer secara brutal di tengah proses negosiasi, yang akhirnya membuat semua jalur diplomasi menjadi buntu.
Hingga saat ini, situasi di Timur Tengah masih membara setelah AS melancarkan serangan ke tiga titik fasilitas nuklir Iran dua minggu lalu. Presiden Donald Trump mengklaim serangan itu perlu demi mencegah Iran memiliki bom nuklir dalam waktu singkat. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































