Netanyahu Tegaskan IDF akan Tetap Bertahan di Lebanon

Jakarta, IDM – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Pasukan Bersenjata Israel (Israel Defense Forces/IDF) akan tetap berada di Lebanon "selama diperlukan".
Baca Juga: Swiss: Perundingan AS-Iran Hari Ini Batal
Melalui platform X miliknya, Jumat (19/6), ia menegaskan bahwa Hizbullah akan mendapat balasan atas serangan ke Israel. Ia juga mengklaim IDF telah menargetkan 80 posisi Hizbullah pada hari ini.
"Israel tidak akan mentolerir serangan terhadap tentara atau wilayah kami, dan akan menuntut harga yang sangat mahal dari Hizbullah atas serangan-serangan ini," tulis Netanyahu.
"Israel akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon Selatan selama diperlukan untuk melindungi masyarakat di utara," jelasnya.
Baca Juga: Badan Pengawas Nuklir Siap Dorong Langkah Konkret Implementasi Kesepakatan AS-Iran
Hal itu diungkapkan setelah empat personel IDF tewas akibat serangan Hizbullah di Lebanon. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, turut menekankan bahwa IDF akan tetap berada di zona keamanan, yang disebut membentang dari "garis pantai hingga ketinggian Beaufort".
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































