Menjauh dari AS, Niger Pererat Hubungan Militer dengan Rusia

Jakarta, IDM – Niger semakin mempererat hubungan dengan Rusia usai menarik diri dari kerja sama dengan Amerika Serikat (AS). Hal itu diwujudkan ketika pelatih militer Rusia beserta pasokan perlengkapan pertahanan tiba di Niger pada beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Rusia Klaim Berhasil Rebut 400 Kilometer Persegi Wilayah Ukraina
“Kami di sini untuk melatih tentara Niger menggunakan peralatan militer, (dan) untuk mengembangkan kerja sama militer antara Rusia dan Niger," kata pelatih militer Rusia saat tiba di Niger melansir The Guardian, Selasa (16/4).
Sebelumnya, junta militer Niger sepakat untuk meningkatkan kerja sama keamanan dengan Rusia, setelah mengusir pasukan AS yang membantu memerangi kelompok pemberontak pada Januari lalu. Juru bicara junta kolonel Amadou Abdramane menyebut keputusan itu diambil karena kehadiran pasukan AS sudah melanggar aturan konstitusional Niger.
Baca Juga: Usai diserang Iran, Israel Tunda Rencana Perluas Invasi ke Kota Rafah
Sementara, kehadiran pelatih militer Rusia disebut bukan hanya untuk melatih pasukan Niger tetapi juga mengajarkan cara mengoperasikan peralatan militer yang dikirim Rusia, termasuk sistem pertahanan udara. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































