Lawan Cina, AS Tempatkan Sistem Rudal Typhon di Pangkalan Jepang

Jakarta, IDM – Amerika Serikat (AS) mengambil langkah geopolitik signifikan untuk mengimbangi dominasi militer Cina di kawasan Asia-Pasifik. Angkatan Bersenjata AS bersiap mengerahkan sistem peluncur rudal darat jarak menengah Typhon (Typhon midrange missile system) ke wilayah Jepang.
Pengiriman kompartemen senjata ini awalnya menyasar pelaksanaan latihan militer bersama bertajuk Valiant Shield dan Orient Shield. Namun, melansir laporan Nikkei Asia, Senin (22/6), AS memutuskan tetap menyimpan baterai peluncur rudal berkemampuan maut ini di pangkalan militer mereka di Jepang mulai Oktober mendatang, alih-alih membawa pulang persenjataan tersebut usai latihan selesai.
Penempatan strategis ini sekaligus memperkuat keterlibatan militer AS dalam menjaga stabilitas kawasan melalui skema deterrence atau efek gentar defensif terhadap Cina. Otoritas pertahanan Jepang menilai keberadaan sistem senjata ini di dalam negeri membuat kekuatan sekutu barat dapat menggerakkan blokade seketika saat krisis pertahanan pecah.
Baca Juga: Iran Sebut Langkah Penting Telah Disepakati dalam Perundingan dengan AS
Nantinya, baterai taktis tersebut akan menempati pos di Pangkalan Udara Kanoya milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (Japan Maritime Self-Defense Force:JMSDF) yang terletak di Prefektur Kagoshima, bagian selatan Jepang. Lokasi ini memegang peran vital karena memotong jalur perimeter operasi armada laut Cina.
Spesifikasi Sistem Typhon dan Tomahawk
Rencana penguatan deterensi ini memicu perhatian besar karena spesifikasi ofensif dari senjata yang sekutu pasang. Sistem Typhon merupakan platform peluncur misil darat bergerak (mobile transporter erector launcher) rakitan Lockheed Martin. Platform ini mengadaptasi teknologi sistem peluncur vertikal (vertical launching system/VLS Mk 41) milik kapal perang Angkatan Laut AS ke dalam kontainer truk berukuran 40 kaki (12 meter).
Kelebihan utama Typhon terletak pada fleksibilitas operasionalnya. Sistem penggerak hidrolik mampu menegakkan kontainer peluncur dari posisi horizontal ke vertikal dalam hitungan menit untuk melepaskan tembakan presisi tinggi yang dikendalikan oleh perangkat lunak sistem tempur Aegis.
Baca Juga: Bahas Gencatan Senjata, AS dan Iran Gelar Negosiasi Darurat di Swiss
Daya hancur sistem ini bertumpu pada amunisi utamanya, yakni rudal jelajah Tomahawk (Tomahawk cruise missile) produksi Raytheon Technologies. Misil ini memiliki spesifikasi teknis mutakhir yang memperkuat sistem pertahanan kawasan:
Jangkauan Operasional Jauh:
- Tomahawk mampu melesat menghantam target hingga jarak maksimal 1.600 kilometer sampai 2.500 kilometer. Jika ditarik garis lurus dari Pangkalan Kanoya di Kagoshima, moncong rudal ini mampu menjangkau langsung kota-kota utama di daratan Cina.
- Menggunakan mesin jet turbofan, Tomahawk bergerak dengan kecepatan subsonik berkisar Mach 0,74 hingga Mach 0,85. Rudal sepanjang 5,56 meter ini terbang sangat rendah memeluk bumi (terrain-hugging) pada ketinggian 30–90 meter demi menghindari radar deteksi musuh.
- Perpaduan teknologi GPS, sistem navigasi inersial (INS), dan pemindai kontur medan (Terrain Contour Matching/TERCOM) membuat rudal berbobot 1,5 ton ini memiliki tingkat akurasi presisi tinggi dengan margin kesalahan di bawah 10 meter dari target.
Baca Juga: Singgung Isu Nuklir saat Berunding dengan AS, Ini Kata Iran
Mengakhiri Dominasi Rudal Darat Cina
Pengerahan ini sekaligus menandai babak baru strategi geopolitik Pentagon di Asia. Nikkei Asia menyebutkan, AS selama puluhan tahun mengalami ketertinggalan dari Cina dalam kepemilikan rudal balistik dan rudal jelajah berbasis darat. Ketimpangan ini terjadi akibat pembatasan ketat Perjanjian Nuklir Jarak Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces/INF Treaty) 1987 yang melarang AS memproduksi rudal berdaya jangkau 500 kilometer hingga 5.500 kilometer.
Sebaliknya, Cina yang tidak terikat perjanjian tersebut leluasa melipatgandakan arsenal militer mereka. Data intelijen menunjukkan Cina menguasai sedikitnya 1.850 unit misil jarak menengah di sepanjang pesisir pantai mereka.
Meskipun AS sudah keluar dari Traktat INF pada 2019, mereka sempat menahan diri untuk tidak menempatkan rudal kategori ini di Jepang demi menjaga stabilitas diplomatik dan meredam resistensi warga lokal. Namun, eskalasi militer di Laut Cina Selatan dan Selat Taiwan memaksa AS mengakhiri masa jeda tersebut demi mengamankan keseimbangan strategi geopolitik di Pasifik barat.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































