KRI Sultan Iskandar Muda Akhiri Misi TNI di MTF UNIFIL Lebanon dengan Kehormatan

Jakarta, IDM – Dermaga Pelabuhan Beirut menjadi saksi momen emosional saat KRI Sultan Iskandar Muda-367 mengakhiri tugas Satgas Maritime Task Force (MTF) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXVIII-P UNIFIL, Senin (5/1).
Acara pelepasan dipimpin langsung Komandan Pasukan UNIFIL Mayjen Diodato Abagnara, yang memberikan penghormatan terakhir kepada seluruh prajurit TNI. Wakil penasihat militer PBB dan komandan satgas gabungan juga menyampaikan kata-kata perpisahan sebelum kapal berlayar kembali ke Indonesia.
“Satgas TNI bukan sekadar melakukan patroli, tapi menjadi ‘Wajah Perdamaian’ yang tangguh. Kehadiran KRI di bawah bendera PBB telah memberikan rasa aman bagi warga Lebanon dan stabilitas kawasan,” ujar Abagnara, dikutip dari laman TNI AL, Rabu (7/1).
Baca Juga: DK PBB Rapat Darurat, Kecam Intervensi Militer AS ke Venezuela
Puncak acara ditandai dengan penyerahan bendera PBB dari Komandan Satgas MTF TNI Konga XXVIII-P UNIFIL Letkol Laut (P) Anugerah Annurullah kepada Abagnara.
Seluruh tamu, termasuk Duta Besar Indonesia untuk Lebanon Dicky Komar dan Komandan Angkatan Laut Lebanon Laksamana Mustafa Al-Ali, berdiri berjajar memberi penghormatan terakhir saat KRI meninggalkan dermaga.
16 Tahun Misi MTF TNI di UNIFIL
Dedikasi prajurit TNI AL juga mendapat pengakuan dunia. Pemerintah Lebanon melalui Angkatan Laut Lebanon menganugerahkan medali LAF kepada prajurit KRI Sultan Iskandar Muda-367.

Medali tersebut disematkan langsung oleh Mustafa Al-Ali kepada Annurullah, sebagai apresiasi atas kontribusi luar biasa menjaga keamanan maritim Lebanon dan memperkuat hubungan bilateral Indonesia–Lebanon.
Baca Juga: Usai AS Intervensi Militer ke Venezuela, Greenland Tegaskan Hal Ini
Selama bertugas, KRI Sultan Iskandar Muda-367 berhasil mencegah masuknya senjata ilegal, meningkatkan kapasitas Angkatan Laut Lebanon, dan menjadi duta bangsa melalui diplomasi budaya.
Momen ini menandai penutupan 16 tahun misi MTF Indonesia di UNIFIL, sekaligus menegaskan posisi TNI AL sebagai kekuatan maritim profesional yang dihormati internasional.
Transisi Misi ke Angkatan Laut Lebanon
Menjelang berakhirnya misi UNIFIL pada 2026, pasukan MTF menandatangani kesepakatan kerja sama baru dengan Angkatan Laut Lebanon. Nantinya, Angkatan Laut Lebanon mengambil peran lebih besar dalam mengamankan perairan Lebanon, sementara MTF beralih menjadi penasihat, pelatih, dan pengamat.

Kesepakatan ini dituangkan dalam standar operasional prosedur yang ditandatangani oleh Komandan MTF Laksamana Muda Stephan Plath dan Mustafa Al-Ali di Pangkalan Angkatan Laut Beirut, Selasa (23/12) lalu.
Baca Juga: Trump Tekankan Tidak Berperang Melawan Venezuela
“Tahun depan, MTF akan tetap mendampingi Angkatan Laut Lebanon melalui pelatihan, pembimbingan, dan saran operasional, agar mereka mampu menjalankan semua tugas maritim secara mandiri,” ungkap Plath, dikutip dari laman UNIFIL.
Selain tugas di laut, pasukan MTF juga memberikan pelatihan teori dan praktik di Sekolah Angkatan Laut Jounieh, untuk pembinaan kapasitas dan transfer pengetahuan bagi Angkatan Laut Lebanon.
Sejak ditempatkan pada Oktober 2006 sebagai tindak lanjut Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, MTF mendukung Angkatan Laut Lebanon mengawasi perairan, menjaga pantai, mencegah masuknya senjata ilegal, serta membangun kemampuan patroli di sepanjang 110 mil laut pantai Lebanon. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































