Korut Klaim 1,4 Juta Pemuda Daftar Tentara

Jakarta, IDM – Korea Utara (Korut) mengklaim lebih dari satu juta pemuda telah mendaftar untuk bergabung menjadi tentara di tengah ketegangan yang meningkat dengan negara tetangganya, Korea Selatan (Korsel).
"Lebih dari 1,4 juta pemuda serta pelajar di seluruh negeri mengajukan diri untuk bergabung atau bergabung kembali dengan Tentara Rakyat Korea, melansir KCNA, Selasa (22/10).
Sebelumnya, Korut menyebut bahwa Korsel telah melakukan pelanggaran dengan menerbangkan drone ke negaranya. Sementara, Korsel menuduh Korut telah menghancurkan jalan di perbatasan yang menjadi penghubung antara kedua negara.
Baca Juga: UNRWA: Israel Masih Blokir Bantuan Masuk ke Gaza Utara
"Jutaan anak muda telah muncul dalam perjuangan nasional untuk menyapu bersih sampah ROK (Korsel) yang melakukan provokasi serius dengan melanggar kedaulatan DPRK (Korut) melalui infiltrasi drone," ujarnya.
Menurut data dari International Institute for Strategic Studies (IISS), Korut memiliki 1,28 juta tentara aktif dan sekitar 600.000 tentara cadangan. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































