Komisi I DPR RI Dukung Pengiriman Prajurit TNI ke Lebanon

Jakarta, IDM – Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menegaskan keputusan pemerintah melanjutkan pengiriman prajurit TNI ke Lebanon merupakan bentuk nyata konsistensi Indonesia dalam menjalankan amanat konstitusi untuk ikut menjaga perdamaian dunia.
Menurutnya, keterlibatan pasukan Indonesia dalam misi perdamaian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak hanya mencerminkan tanggung jawab internasional, tetapi juga memperkuat posisi strategis diplomasi Indonesia di tengah dinamika keamanan global.
Dave menilai kehadiran pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon menjadi simbol kepercayaan dunia internasional terhadap profesionalisme prajurit TNI dalam menjalankan misi kemanusiaan dan stabilisasi konflik.
Baca Juga: TB Hasanuddin Dorong Dialog dalam Menyikapi Polemik Nobar Film di Ternate
Ia menyebut keberlanjutan misi tersebut harus dibarengi dengan perhatian serius terhadap aspek perlindungan personel di lapangan.
“Komisi I DPR RI memandang keputusan Pemerintah untuk melanjutkan pengiriman prajurit TNI ke Lebanon sebagai wujud nyata komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia,” kata Dave Laksono.
Ia menambahkan, keselamatan dan kesejahteraan prajurit harus menjadi prioritas utama di tengah situasi kawasan Timur Tengah yang masih dinamis dan berpotensi mengalami eskalasi.
Sehingga, Komisi I DPR RI mendorong Kementerian Pertahanan dan TNI memastikan kesiapan dukungan logistik, perlengkapan operasi, hingga koordinasi intensif dengan pasukan PBB serta negara-negara mitra.
Baca Juga: DPR Soroti Keamanan Pasukan Perdamaian, Dorong Evaluasi Menyeluruh Sistem Pengamanan TNI
“Evaluasi berkelanjutan terhadap dinamika di lapangan perlu dilakukan agar setiap kebijakan tetap relevan dan prajurit dapat menjalankan tugas dengan aman,” ujarnya.
Komisi I DPR RI juga menilai misi perdamaian bukan sekadar penugasan militer, melainkan bagian penting dari instrumen diplomasi pertahanan Indonesia.
Keberadaan prajurit TNI di wilayah konflik dinilai mampu memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang konsisten mengedepankan stabilitas, dialog, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam hubungan internasional.
Dave menekankan profesionalisme prajurit menjadi faktor utama keberhasilan misi. Prajurit TNI yang bertugas di Lebanon diminta menjaga disiplin, soliditas, dan integritas selama menjalankan mandat perdamaian dunia.
“Misi perdamaian ini perlu dijalankan dengan profesionalisme tinggi, menjunjung nilai kemanusiaan, serta membawa nama baik bangsa,” ucapnya.
Baca Juga: TB Hasanuddin Minta Perpres Ekstremisme Tetap Jaga Ruang Demokrasi
Lebih lanjut, Komisi I DPR RI menyampaikan apresiasi kepada seluruh prajurit yang akan diberangkatkan ke Lebanon.
Dukungan rakyat Indonesia, menurut Dave, menjadi modal moral penting bagi pasukan perdamaian dalam menjalankan tugas negara di medan operasi internasional.
“Dengan dukungan rakyat Indonesia, kami percaya bahwa kehadiran pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon akan memperkuat diplomasi bangsa dan menjadi teladan bagi dunia dalam mewujudkan stabilitas serta keamanan internasional,” pungkas Dave. (Ykb)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































